Kamis, 12 Desember 2013

Musim Hujan Pun Musim Mangga

Saat musim hujan mulai menampakkan dirinya di akhir bulan November. Anak di kampung seumuran diriku mulai mengatur strategis. Biasanya musim hujan juga diiringi dengan musim tanam padi. Saat itu lah angin mengikuti hujan sering berhembus. Buah mangga pun mulai masak di pohonnya. Pemilik mulai bersiap memungut buah yang jatuh dari pohon atau ada pula yang memanggil orang sewaan untuk memanjak pohon miliknya. Pohon mangga "macang" demikian kita menyebutnya, begitu enak di makan apalagi kalau ditemani dengan "sokko" yang terbuat dari beras ketan, ada yang hitam maupun putih.
Anak-anak mulai bersorak mengatur cara bisa memanjak atau hanya sekedar menunggu buah jatuh dari pohon, yang terletak di depan tempat tinggal ku. Sebut saja pemiliknya bernama Mena. Seorang ibu dengan satu anak perempuan yang saat itu sedang menyelesaikan kuliahnya di pusat ibu kota provinsi. Mena, seorang janda pekerja ulet. Setiap jadwal pasar di kampung kami, dia menjual "apang" di pasar yang tak begitu jauh dari rumahnya. "Apang" terbuat dari gula merah (aren) sebagai bahan utama, ukurannya sebesar telapak tangan berwarna kecokelatan. "Apang" akan terasa lebih nikmat apabila disandingkan dengan kelapa yang sudah di parut. Cara makannya kira-kira seperti mencelupkan "Oreo" di tea hangat. Rasanya yang manis di tambah dengan kelapa tua yang telah di parut itu, rasanya menjadi kira-kira seperti perasaan cintanya Zulaikha pada nabi Yusuf, nice bin delicious :)
Setiap pagi buta, setelah solat subuh, dia telah berjalan kaki menuju pasar. Penjual di pasar memang biasanya lebih pagi datang menyiapkan jajanannya. Tak jarang pun pada hari minggu, saya dan beberapa teman, setelah solat subuh jamaah juga mengunjungi pasar. Tidak lah mengherankan karena pasar lah sebagai tempat satu-satunya hiburan di kampung ini. Biasanya, pasar kedatangan tamu istimewa yang entah berasal darimana. Menggunakan mobil pick up dengan membawa microphone beserta jajanannya yaitu obat. Kami menyebutnya sebagai "pabbalu pabbura". Menjual obat dengan cara marketing yang sedikit berbeda atau malah jauh berbeda bila di bandingkan dengan pak Nambo, perawat di kampung kami, yang hanya menunggu di rumah karena di datangi langsung oleh klien. Pabbalu pabbura ini layaknya komedian, tapi pun bisa menjadi juru selamat. Tidak sedikit yang membawa binatang atau alat-alat yang berbau magis sambil berteriak layaknya ustad yang sedang berceramah. Tak lama kemudian, ramuannya pun di keluarkan dengan tawaran berbagai diskon. Moment ini lah yang paling saya senangi, melihat sang penjual obat berceloteh sambil membayangkan diriku kelak mampu berbicara di depan orang yang lebih banyak.
Saat musim mangga lah, Mena akan merasa lebih senang karena itu berarti akan menambah penghasilannya. Selain "apang" yang sudah terkenal sekelurahan sebagai produk andalan, dia bisa menjual pula hasil panen pohon mangga yang berdiri di sekitar rumahnya itu. Dia memiliki beberapa pohon mangga dengan berbagai jenis. Tinggal sendiri dengan luas lahan rumah tidak membuat dia takut, mungkin karena juga bertetangga dengan kantor polisi di kecamatan ini.
Kami, anak yang tak tau diri ini, dengan segerombolan merasa bangga saat bisa memungut mangga milik pengusaha "apang" ini. Mendung tak berarti hujan, bagi kami tak penting karena dimana-mana saat mendung maka angin menyertainya terlebih dahulu. Saat itulah, kami beraksi. Angin akan menjadi berkah buat kami. semakin kencang anginnya, kesempatan merasakan nikmatnya irisan mangga "macang" semakin terbuka. Tak ada kesetiakawanan saat buah mangga jatuh dari pohonnya. Yang ada hanya kompetisi. Siapa yang cepat bergerak, dialah yang dapat. Tidak mudah memang dalam kompetisi ini, tidak selayak lari karung atau manjat pinang yang licin saat 17 an yang terang-terangan. Kali ini kami harus berhati-hati, bergerak dengan cepat dengan menjaga gerakan sentuhan kaki ke tanah, bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak ada tawa untuk sesaat. Yang ada hanyalah berbisik agar tak ketahuan.
Selain mangga yang masak, tak jarang pula ada mangga yang masih muda pun ikut jatuh. Saat kami sukses, bukan main senangnya. rumah ku yang merupakan pinjaman pemerintah itu (rumah dinas puskesmas) menjadi markas terselubung. Tapi saya senang tentu saja karena peluang memperoleh bagian lebih banyak mesti saya rasakan. Bagaimana tidak, saya juga harus membayar lebih dengan mengambil bahan dapur orang tua. Mangga yang masih muda tentu saja harus dengan bantuan bahan racikan. Pisau menjadi alat utama, dengan tambahan garam, kecap dan biji lombok yang biasanya saya petik depan rumah, hasil tanaman bapak pun harus direlakan. Yang mengiris buah pun tentu harus mendapatkan jatah yang berbeda. Dia juga mendapatkan jatah lebih seperti diriku. Dengan alasan ini, 'profesi dadakan' ini menjadi rebutan setelah 'panen'. Beginilah adil menurut para petani tanpa lahan. Tak ada hitam di atas putih melainkan hanya saling tahu satu sama lain.
Namun, berbeda dengan mangga yang telah masak, lebih sering kami makan dengan secara langsung. Kebiasaan ini kami sebut "makkekke", menggigit kulit yang tentunya telah lembek dan memakan bagian kulit dalam mangga satu persatu hingga habis, bahkan sampai menjilat saat masih ada tersisa di kulit dalamnya tersebut. Yang lebih menyenangkan, kulit itu menjadi kompetisi selanjutnya. Kami biasanya menendang sekencang-kencangnya secara satu per satu. Jarak tendangan yang terjauh menjadi pemenang. Memang tak ada piala, tapi entah kebiasaan ini sangat menyenangkan.
13.12.13 - 15.25 PM / Makassar

0 komentar: