Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

Jenne Teppettu

Aqimi 'shalata lidzikn (QS Tha Ha : 20) dirikanlah shalat untuk mengingat Allah. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa tujuan dari perintah solat itu adalah untuk mengingat Allah. Adapun manfaat dari mendirikan solat itu adalah tercermin pada surah Al Ankabut ayat 29 "inna 'sh-shalata tanha 'ani 'l-fakhsyai wal munkari" sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jelas ini menjelaskan bahwa keutamaan dari melaksanakan kewajiban ini. Tentu kita bisa membedakan tujuan dan manfaat kan? seperti ketika kita bertemu dosen pembimbing skripsi yang menjelaskan perbedaan tersebut pada bab 1 :)
Seperti kamis kemarin saat berada di Al Markaz, masjid kebanggaan Sul-sel, saat sedang mendiskusikan tentang cinta Allah. Kami bersepakat bahwa cinta kepada Allah itu harus diikuti dengan aksi. Aksi yang dimaksud adalah salah satunya dengan Solat. Kalau dengan solat bertujuan mengingat Allah dan solat itu lima kali sehari maka bukankah mengingat Allah itu hanya akan terbatas. Rasanya tidak demikian. Hamba mestilah selalu Connect dengan Tuannya. Jadi teman-teman judul tulisan ini bercerita tentang mengingat Allah dan solat. selamat menyimak ;)
Sebab tidak lah mungkin menyamakan solat dengan program pendidikan di Indonesia. Pendidikan kita adalah wajib belajar 12 tahun. Esensi dari pendidikan adalah belajar. Olehnya, belajar (berpendidikan) itu hanya di wajibkan selama 12 tahun dan setelahnya terserah anda. Begitu kerdil dan sempit kalau pendidikan (belajar) itu hanya di ajurkan kita peroleh dan lakukan di lingkungan sekolah selama 12 tahun tersebut. Esensi dari solat adalah mengingat Allah. Kalau hanya mengingat selama 5 kali sehari, manalah rasa syukur kita kepadaNya yang telah memberi begitu banyak nikmat yang tak terbatas, bukannya nikmatnya ini haruslah berbalas? Tidak lah dengan menyempitkannya dengan hitungan kalkulasi semata. Sekali solat menghabiskan waktu 6 menit yang kemudian di kali dengan lima, hasilnya adalah 30 menit. 30 menit mengingat Allah dalam sehari, sisanya terserah anda. Yaa demikianlah kira-kira yang sering tersampaikan di atas mimbar Jumat, seperti yang saya dengar kemarin di Masjid dekat kost ku.
Solat lima waktu yang telah ditentukan waktunya dan prosedur yang lainnya ini merupakan solat hakikat. Di mulai dengan bersuci mengambl air wudhu, dengan gerakan menghadap kiblat berawal dengan niat dan di akhiri dengan salam ke kiri dan kanan.
Kalau anda adalah orang Bugis, maka anda mungkin pernah mendengar ungkapan ini "jenne teppettu". demikianlah yang sering menjadi pengingat orang tua di kampung. Jenne berarti wudhu dan teppettu diartikan sebagai tanpa putus. Wudhu (jenne) yang dilakukan setiap saat hendak menjalankan solat lima waktu. Jagalah "jenne" mu dapat dimaknai selalulah dalam keadaan suci. Dalam pemaknaan sederhana, dapat diartikan bahwa segala aktivitas mestinya dalam keadaan sedang bersih karena telah "majenne" (berwudhu). bukan hanya ketika mau solat lima waktu melainkan pun saat sedang keluar rumah sampai pada menjelang tidur. Hingga pada pemaknaan yang agak ribet nan ruwet ;) Pemaknaan "jenne teppettu" memiliki makna yang lebih dalam dari pada hanya memaknai sebagai bentuk wudhu dengan gerakan yang dimulai dari tangan di akhiri membasuh kaki itu. Jenne itu bersuci, maka hendaklah bersuci setiap detiknya. Artinya bahwa bersucilah secara terus menerus atau solatlah dengan tanpa henti atau ingatlah Allah tanpa melewatkan setiap detiknya. Demikianlah kognitif saya yang sedikit tumpul ini ;) memaknainya, bukan salah saya kalau salah interpretasi, sebab orang tua belum pernah secara langsung dan tegas menyampaikan arti sesungguhnya atau mungkin karena wahyu belum turun, yaa tidak mungkinlah sebab jelas Muhammad adalah utusan terakhir, naa ane ngutus diri sendiri ke jalan benar belum mampu.
Sekali lagi ingin menginterpretasi (bebas saja sebab ini adalah blog saya, kalo keliru bole comment di bawah ;) ) sekali lagi kembali ke laptop, pada surah Tha Ha di atas bahwa solat itu mengarah pada mengingat Allah. artinya bahwa dalam hidup ini, di anjurkan untuk mengingat Allah setiap saat. Ini berarti bahwa, sebaiknya kita melaksanakan solat (mengingat) setiap saat pula. Sehingga solat kita bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban melainkan mendirikan solat dengan tetap berada dalam keadaan salat yang terus menerus tanpa mengenal waktu. Berbeda dengan solat lima waktu dan sunnah, solat yang dilaksanakan setiap saat ini di sebut sebagai solat solat daim, surah Al Ma'arif ayat 70 menjelaskan bahwa "alladzinahum 'ala shalatihim daimun yaitu  orang-orang yang tetap dalam keadaan shalat (mengerjakan solat terus menerus). Nah adakan solat yang bisa dilakukan tanpa henti dan mengenal waktu. Cintailah Allah dengan Aksi. Mengingat Allah juga merupakan aksi, malah bagi saya inilah yang amat direkomendasikan. Aksi mengingat Allah yang terus menerus, yang selalu connect. Bukankah terasa nyaman kalau terus terhubung? kapan pun bisa di panggil, tanpa emergency number ;) Pertanyaannya adalah gimana caranya sob? ini masih peninggalan orang tua saya yaa, jadi bole ikut bole kaga'. Menurut ortu saya, ingatlah nafasmu nak, karena itulah kita hidup. Rasakan keluar dan masuknya, caranya adalah dengan menghirup napas sembari membatin lafadz "Hu" dan menghembuskan seraya membatin lafadz "Allah". Ungkapan Bugisnya adalah "Allah tama, Allah messu". Semoga Allah SWT selalu meneduhkan akal dan hati kita sebagai ungkapan penghambaan kita Hanya KepadaNYA.
14.12.13 - 08.56 AM. Makassar
Read More

Senin, 21 Januari 2013

Kepemimpinan Bugis Dalam La Galigo



Manusia Bugis, Manusia Pemimpin Ideal J
Beberapa pekan ini rentetan pengalaman yang saya lalui merujut pada malam hari ini, di wisma mahasiswi wajo Yogyakarta. Pekan lalu menghadiri seminar nasional di salah satu hotel yang menghadirkan tokoh-tokoh nasional sebagai pematerinya. Tidak lupa gubernur DIY sebagai key note speaker nya. Tema seminat tersebut adalah Rakyat Mencari pemimpin. Para pemateri memaparkan materi dengan menyajikan bagaimana sosok pemimpin ideal, sampai pada menyebut 3 tokoh utama berdasarkan salah satu lembaga survey yang mencolok di permukaan public yang diandalkan sebagai pemenang presiden 2014.
Di lain tempat juga bertemu dengan salah satu teman yang berasal dari kampung yang sama namun telah memperistrikan wanita sumatera. Pertemuan ini menarik karena kami berdiskusi tentang manusia Bugis. Yang menarik adalah mendiskusikan peranan orang bugis dalam pemerintahan. Mereka terkesan saling mendukung menempatkan pada posisi strategis.
Kejadian ketiga, kemarin mendapat pesan dari salah teman di Makassar, meminta vote online salah satu kendidat calon walikota Makassar. Namun sebelum saya vote, saya bertanya pada teman, dia orang Bugis? ;) menurut ku Makassar harus dipimpin oleh manusia bugis sebagaimana sebelumnya yang keturunan bugis. Kenapa? Mudah saja karena dari manusia bugis inilah Makassar telah kelihatan bentuknya di tahun 2020 sebagai kota dunia, keren tawwa J
Terakhir malam ini, pengalaman tidak terlupakan bertemu dengan salah satu guru besar yang fokus studynya La Galigo. Dari sekian pemikiran yang dibagi, saya tertarik pada tema utama yang diangkat oleh teman-teman panitia, mengenai konsep manusia bugis dalam La Galigo. Lebih dalam lagi mengenai bagaimana manusia bugis itu dalam kehidupan sosial.
Cerita dalam “kitab” La Galigo tersebut menceritakan “real self” manusia Bugis yaitu Macca, Malempu, Magetteng dan Burane. Kemudian oleh saya merumuskan bahwa keempat nya merupakan haruslah menjadi pondasi ideal pemimpin bangsa Indonesia. Artinya bahwa, pemimpin harus memiliki 4 karakter bugis ini. Macca dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai cerdas. Manusia yang cerdas dari komunitas bugis adalah bisa dilihat pada abad ke VII telah mampu memberi bahasa komunikasi yang dikenal sebagai Lontara dan antara abad VII sampai X telah menyusun I la galigo. Sebuah komunitas sosial yang telah membangun budaya bahasa dalam komunikasinya.
Malempu yaitu jujur. Manusia Bugis telah dikenal sebagai pelaut ulung, selain untuk konsumsi juga untuk perdagangan. Usaha perdagangan oleh orang Bugis bukan hanya di nusantara namun sampai ke luar. Hanya dengan “malempu” inilah yang dapat membuat mereka dapat dipercaya. Selanjutnya adalah Magetteng yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia adalah teguh pendirian. Pemimpin adalah mereka yang bisa memegang perkataannya walaupun pahit. Manusia bugis selalu diajarkan bahwa apabila sudah meludah, harum hukumnya untuk menjilat lagi, hal ini dapat dimaknai dengan ucapan yang telah disebutkan sebelumnya, akan berdosa apabila ditarik kembali. Manusia bugis adalah manusia yang tidak mengenal abu-abu melainkan hanya hitam dan putih. Hal ini menandakan bahwa, manusia bugis merupakan seiya sekata.
Terakhir adalah burane. Burane dimaknai sebagai berani. Berani dalam mengambil resiko. Karakter ini biasanya di simbolkan sebagai “kuwali”. Maka tidak mengherankan kalau alat ini selalu menemani “tuannya” kemana pun pergi atau walau hanya di simpan di rumah sebagai bentuk keberanian.
Namun demikian, dewasa ini yang menjadi tantangan besar bagi generasi muda Bugis adalah membawa karakter idea tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tentu banyak tantangan yang dihadapi termasuk tulisan atau literature yang masih kurang, global isu yang semakin berkembang mempengaruhi life style, dan kesakralan yang terlalu para orang tua bugis dalam membagi ilmunya serta dalam diri generasi muda yaitu kebanggaan akan budaya kita sendiri.
Ke empat tantangan ini akan menjadi kenyataan pahit apabila tidak dapat ditemukan solusi yang tepat dalam menghadapinya. Kebudayaan bugis yang bahkan mendapat apresiasi dunia akan semakin terpinggrikan oleh perkembangan kebudayaan barat yang tentunya tidak sesuai dengan nilai-nilai local. Generasi tidak merasa bangga lagi berbahasa ibu (bahasa bugis)mesti dalam rumah sendiri. Merasa malu dan dianggap katro dengan menggunakan cirri khas kebugisan. Sudah tidak menjadi pilihan yang menarik dalam jenjang pendidikan. Pada saat itulah budaya ini akan hilang.
Namun, boleh lah kita berbangga dengan orang yang masih ada (tersisa) memahami arti penting dari kebudayaan ini. Bangsa kita hadir berdasar pada “kampung halaman” kita masing-masing. Ada yang berasal dari kampung halaman Jawa, Sunda, Makassar dan lainnya. Forum diskusi kajian budaya sulselbar merupakan ruang yang tepat dalam berbagi dan menampakkan bahwa kebudayaan itu akan tetap bertahan. Ide membuat games dan komik ataupun pemantasan kebudayaan yang di usung oleh lontara project akan menjadi “sulo” kegelapan karena dengan budayalah manusia akan menjadi lebih bijak. “what makes you sane in the crazy world” (apa yang membuatmu sadar di dunia yang gila). Semoga budaya kita “bugis” masih menjadi filter kuat dalam serangan budaya “crazy”. Bangga menjadi Bugis.
Tabe’
Boleh lah dikoreksi tulisan dan idenya J

Nb: Tulisan ini merupakan hasil diskusi oleh Bunda Nurhayati Rahman (Guru Besar Univ. Hasanuddin Makassar)
Read More

Rabu, 19 Desember 2012

Kampung Halaman (Bagian tempat lahir)



Pertanyaan yang sering muncul pada seminar self development atau pun menjadi materi pamungkas pada kegiatan training motivasi adalah “who am I?” Menjadi tertarik karena hal yang dianggap sensitive dan penting dalam usaha mengarungi kehidupan. Sensitive karena pembahasannya pada wilayah unconscious dan atau filosofis yang terkesan menjadi ruwet untuk dibahas, sehingga tidaklah mengherankan mereka yang bisa berkoar-koar membahasnya dianggap cerdas. Hampir dari mereka mengambil referensi barat yang terkadang enggan melibatkan Tuhan, jadilah mereka materialistik. Demikian pula akan menjadi penting karena sebagai charger kehidupan, penguat jejak kaki. Penting untuk memahami asal kehidupan, dengannya akan mempengaruhi perilaku manusia.
Selain di acara tersebut, kegiatan outbound tidak ketinggalan memberi materi ini dengan memasukkannya dalam pemaknaan melalui permainan. Hal ini menunjukkan bahwa, pertanyaan mengenai “siapa dirimu” dianggap begitu penting untuk dijawab oleh setiap manusia yang mencita-citakan kesuksesan dalam hidupnya.
Namun apakah begitu rumit untuk menemukan jawabannya dengan harus menghadiri kegiatan seminar, training ataukah outbound. Bukan rahasia lagi, kegiatan tersebut umumnya dengan biaya nominal yang cukup tinggi dengan kualitas sepekan. Jawabku tidak, dalam pikiran dangkal saya, hal ini adalah sederhana.
Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah memahami konsep Kampung Halaman. Kampung halaman merupakan sebuah kalimat familiar yang sering didengar dan diucapkan oleh banyak orang. Ketika seseorang menanyakan kampung halaman Anda, cukup menjawab dengan tempat dimana Anda dilahirkan sesuai dengan di Kartu Tanda Penduduk. Siapa Anda? Saya adalah orang Jogjakarta, Makassar, Bone, dll. Ketika Anda merantau, maka yakin ada rasa rindu untuk kembali dimana Anda dilahirkan. Orang rantau ketika meninggal pun, diakhir hidupnya akan berpesan (kalau sempat ;)) untuk dikembalikan ke kampung halamannya dimana dia dilahirkan. Nah, kalau pun tidak sempat, maka keluarga yang lain akan memilih untuk mengembalikan jenazahnya di kampung asalnya. Simple as well as we think J
Itulah kampung halaman kita. Siapapun dia akan rindu tempat dilahirkan, suasana bermain, tegur sapa dengan rekan kanak-kanak atau hanya sekedar terbesit dalam pikiran tempat kita jatuh untuk pertama kalinya ketika belajar naik sepeda. Kenangan ini semua teringat karena disanalah nilai dan karakter terbangun untuk pertama kalinya. Pengalaman ini akan sulit tergantikan dalam usia meranjak dewasa.
Fakta nyata bisa kita lihat pada fenomena hajatan tahunan hari raya idul fitri dan idul adha atau hari-hari besar keagamaan lainnya. Kereta api, bus, pesawat, kapal laut dan segala jenis transportasi lainnya menyesaki jalanan diisi oleh perindu kampung halaman. Jadwal dan jumlah transportasi menjadi perhatian sendiri bagi pemerintah dalam usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat. Fenomena ini telah menjadi ketaksadaran kolektif bagi setiap orang. Pun, kebiasaan yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadar untuk segera dipenuhi.
Kampung halaman tempat dimana manusia dilahirkan membawa kenyamanan. Nyaman dengan adanya perasaan aman dan ekspresi aktualisasi bebas. Aman karena berada lingkungan yang dikuasai dan kondisi mendukung untuk mengaktualisasikan diri secara bebas.
Read More

Rabu, 12 Desember 2012

Kampung Halaman (Bagian Nilai Identitas Kebangsaan)



Sejarah mencatat bahwa Indonesia hadir karena kesepakatan raja-raja yang ada di nusantara. Setiap kerajaan itu mewakili suku yang masing-masing memiliki sistem pemerintahan dan kebiasaan sendiri dalam mengatur masyarakatnya. Keikhlasan dari merekalah Indonesia menjadi satu. Mereka merelakan wilayah dan sistem tatanan sosial yang telah dibangun kemudian melebur dibawah pemerintahan sah bangsa Indonesia.
Sudah 66 tahun sejak Indonesia di proklamirkan sebagai bangsa yang berdaulat tahun 1945 oleh Daeng Karno dan Petta Hatta. Terhitung sejak waktu itulah wilayah kerajaan juga sudah tidak berlaku kecuali daerah wilayah Yogyakarta yang tetap mempertahankan kebiasaan kerajaan dan menjadikannya sebagai daerah istimewa (tentu dengan sejarahnya sendiri).
Wilayah kerajaan sebelumnya tentu memiliki identitas diri sendiri. Mereka hadir dengan konsep dan nilai yang merupakan local wisdom (kearifan lokal) yang diangkat menjadi kebiasaan. Bisa kita lihat dari topologi suatu wilayah yang membedakan satu wilayah dengan lainnya. Dari realitas inilah, pendiri bangsa dengan kesadaran penuh mengkonsepkan bangsa ini dengan Binneka Tunggal Ika (berbeda-beda namun satu jua).
Dari nilai identitas itulah Indonesia hadir. Ini berarti bahwa cerminan perilaku kita harus sesuai dengan identitas kita masing-masing. Dengan kesadaran inilah, mestinya orang yang terlahir di daratan Sulawesi Selatan tidak perlu malu menunjukkan cara berbicara mereka, yang berasal dari tanah Maluku pun harus tetap berani menunjukkan kebiasaan dari kampung halamannya, begitu pula dengan orang batak dengan intonasi berbicara mereka dan tentu saja setiap wilayah harus bangga dengan kebiasaan yang terbangun itu. Kebiasaan itu harus tetap di jaga ketika kita meninggalkan daerah asal. Karena dengan berbeda itulah Indonesia tetap dikatakan bangsa berdaulat.
Tentu saja bukan hanya masyarakat yang harus bangga dengan kebiasaan lokal, namun juga harus menjadi cerminan pembangunan oleh pemerintah pusat maupun lokal. Peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah dan peraturan daerah wajib hukumnya bercermin pada kearifan local. Nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat setempat harus diakomodir dalam peraturan tersebut. Pemerintah tidak boleh melupakan asal muasal berdirinya bangsa ini.
Namun yang nampak hari ini menunjukkan realitas yang berbeda. Kita tidur di atas emas dan mandi dengan minyak, semuanya seakan tidak memberi manfaat banyak kepada bangsa ini karena lebih banyak dinikmati oleh orang asing kalaupun ada warga Indonesia, maka mereka adalah investor besar atau malah kaki tangan bangsa asing. Banyak perusahaan asing yang menguras bumi ini, bahkan bukan hanya sumber alamnya namun juga tata kehidupan sosial juga mereka rusak, maka tidaklah mengherankan banyak diantara mereka berkonflik dengan masyarakat setempat. Aktifitas mereka tentu mendapat legalitas dari pemerintah pusat maupun daerah melalui kontrak.
Banyak kebijakan pemerintah yang juga dianggap tidak sesuai dengan identitas bangsa ini. Kebijakan pemerintah mengimpor garam dan ikan, padahal secara geografis Indonesia memiliki laut lebih banyak daripada daratan, mendatangkan beras padahal bangsa ini merupakan bangsa agraris yang mayoritas penduduknya merupakan petani. Pun study banding dilakukan ke luar negeri yang dimaksudkan untuk mengambil aturan kemudian diimplimentasikan ke dalam negeri yang tentunya akan berbeda dengan kearifan lokal kita.
Selain itu, ternyata perilaku pemerintah ini juga tertular kepada pelaku-pelaku bisnis yang mementingkan materi. Dalam dunia industri hiburan misalnya, Indonesia Idol merupakan hasil impor dari luar negeri yang kemudian banyak digandrungi generasi muda, kuis yang memberi hadiah juga idenya diambil dari luar. Dalam bidang perekonomian, bukannya mengembangkan koperasi, yang merupakan tawaran konsep real bangsa ini, namun lebih memilih membesarkan Carrefour, alfa dll yang merupakan produk asing dan tentu saja membunuh masyarakat bawah.
Kalau sudah begini, masih pantaskah Indonesia disebut sebagai bangsa berdaulat atau mungkin lebih pantas disebut sebagai bangsa buruh. Hal yang mesti dilakukan adalah bercermin pada nilai-nilai nyata kebiasaan bangsa yang ada pada setiap KAMPUNG HALAMAN. Ingat, dari setiap kampung halaman inilah Indonesia ada, dari penggabungan kampung halaman inilah Indonesia diproklamirkan, dari setiap jengkal centimeter kampung halaman inilah Indonesia disebut sebagai bangsa berdaulat.
Kalau nilai kampung halaman ini telah dilupakan dan ditinggalkan maka bangsa Indonesia hanyalah symbol belaka.
Read More

Sabtu, 08 Desember 2012

tawuran mu bukan tawuran ku :)



Perkuliahan itu iramanya seperti biasa, ada sesi ceramah dan tanya jawab. Hari itu (19/10/12) belajar Psikologi kepemimpinan di asuh oleh salah satu Profesor dari universitas tertua di bumi nusantara ini. Kesempatan teman bertanya sekaitan dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta yang berhasil memenangkan Joko Widodo sebagai pemegang jumlah suara terbanyak. Setelah beberapa teman kelas memberi respon atas pertanyaan ini, saya pun ikut tertarik karena juga ingin berpendapat atas beberapa penjelasan dari sang dosen. Mengenai jawaban teman, aku berpendapat bahwa ada dua alasan kenapa mayoritas warga ibu kota memilih Jokowi, pertama karena dia dalam kampanyenya menggunakan kata “telah” BUKAN “akan”. Jokowi telah berbuat di kota sebelumnya yang di anggap berhasil. Alasan yang kedua adalah Jokowi dan pasangannya, Ahok menjanjikan “gerakan” BUKAN “program”. program biasanya hanya milik pemerintah sedangkan gerakan akan melibatkan setiap elemen masyarakat dalam pembangunan. Mengenai  penjelasan dosen, saya berpendapat bahwa bukan kali ini, hampir di setiap tempat bila berbicara mengenai kepemimpinan maka akan bersinggungan dengan teori barat atau pendekatan yang di pakai di negeri orang lain. Berusaha mengaitkan dengan pilgub di Jakarta, Jokowi dalam memerintah Kota Solo, beliau menggunakan pendekatan yang sesuai dengan nilai-nilai lokalitas masyarakat setempat dalam hal ini jawa. Dengan pendekatan inilah beliau bisa memindahkan pedagang ke tempat yang diinginkan. Dan tidak lah mengherankan kalau beliau juga berbeda pandangan dengan gubernur jawa tengah pada rencana pembangunan pusat pembelanjaan dimana berada bangunan peninggalan sejarah. Ini bisa di sebabkan karena pandangan yang digunakan pun berbeda. Referensi kepemimpinan yang berbeda akhirnya pun tindakannya juga akan berbeda pula.
Pekan berikutnya (23/10/12), saya berkesempatan menghadiri seminar pendidikan psikologi pendidikan di salah satu universitas negeri yang menghadirkan pembicara seorang psikolog yang merupakan tenaga pendidik di universitas negeri tertua di Indonesia serta juga ikut terlibat sebagai team pembuat kurikulum pendidikan nasional. Saya merasa beruntung berada diantara peserta yang berkesempatan mendengar ceramah pemateri. Sebetulnya saya tidak tertarik untuk terlibat pada sesi tanya jawab, namun karena pemateri sering menyinggung daerah asal saya maka saya pun berinisiatif bersuara. Tepatnya sepekan sebelum seminar berlangsung, memang terjadi tawuran antara mahasiswa di kota Makassar. Pemateri berpendapat bahwa penyebab tejadinya tawuran karena energy mahasiswa tidak terserap oleh kegiatan di kampus (tugas dan organisasi internal). Beliau merekomendasikan dosen agar memberi banyak tugas kepada mahasiswa sehingga waktunya bisa di pakai untuk mencari bahan tugas. Setelah itu, dosen juga bisa merevisi dan meminta mahasiswa untuk mengerjakan lagi. Ini dianggap akan memaksimalkan waktu mahasiswa dengan kegiatan positif.
Menurut pandangan dangkal saya, itu mungkin salah satu cara yang bisa di pakai. Namun izinkan saya berbagi ide, perlu dipahami bahwa tipologi Sulawesi selatan terdapat berbagai macam suku, minimal ada bugis, Makassar dan toraja. Di antara bugis pun berbeda satu sama lain khususnya bugis dari tanah Luwu (palopo) dan dari Bone. Sejarah kerajaan mereka memiliki nama yang besar di masanya. Ada masa dimana Bone, Luwu dan Makassar berikrar bersaudara namun ada pula masa mereka berbeda pandangan. Tentu apa yang terjadi pada saat itu merupakan strategi yang dilakukan demi pencapaian tujuan kerajaan. Bisa saja karena motivasi perluasan daerah kekuasaan, atau mungkin karena sumber daya alam yang ada. Namun apa pun yang telah terjadi, itu semua terikat ruang, waktu dan tujuan yang berlaku pada saat itu. Ruang yaitu berlaku pada wilayah kekuasaan kerajaan. Sedangkan waktu, perlu di ingat bahwa Indonesia belum ada pada saat itu, masa dimana kerajaan berusaha mempertahankan wilayah kekuasaannya. Dan tujuan, tentu setiap kerajaan memiliki motivasi sendiri demi kejayaan masyarakatnya.
Kita pun tidak boleh melupakan “sureq la galigo” yang sekarang masing-masing mengklaim milik daerah sendiri. Ada yang melakukan penafsiran bahwa cerita itu di mulai dari tanah “sawerigading” Palopo, namun ada pula yang menganggap bahwa “to manurung” pertama kali turun di bumi “arung palakka” Bone. Begitu pun daerah lainnya yang berpendapat berbeda.
Perbedaan pendapat ini nyatanya di akomodir oleh organisasi daerah (Organda) melalui pengkaderan setiap penerimaan mahasiswa baru yang datang ke Makassar menempuh perkuliahan. Organda ini merupakan corong pendapat itu yang akhirnya menjadi “ideologi” baru bagi mahasiswa baru yang baru datang dari daerah. Demikian ide itu yang terus mengalir dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Izinkan saya meminjam istilah saudara kita dari bugis Bone yaitu “de gaga jago”. Istilah ini bukan hanya idiom semata namun bisa menjadi falsafah. “De gaga jago” dalam bahasa Indonesia berarti “tidak ada jagoan/hebat” bahwa mereka (yang datang dari Bone) lah jagoan, merekalah yang hebat dan tidak ada yang hebat dibandingkan dengan mahasiswa yang datang selain dari bugis Bone.
Oleh karena itu, menurut saya tawuran yang sering terjadi di kota Makassar di hampir setiap awal jadwal perkuliahan berakar dari perbedaan cerita masa lalu masing-masing daerah. Cerita masa lalu yang perlu di runtut kembali dengan menemukan nilai lokalitas dari cerita tersebut. Cerita itu merupakan nilai lokalitas yang patut kita banggakan. Saya amat yakin nilai lokalitas kita begitu kaya untuk di aplikasikan dalam dunia saat ini. Nilai lokalitas itu bisa membantu kita dalam menjalani hidup sehari-hari.
Pandangan sederhanaku ini yang saya anggap sebagai penyebab yang menjadi akar permasalahan tawuran diantara mahasiswa di kota Makassar. Beberapa mahasiswa masih mengotak-kotakkan cerita lokalitas masing-masing daerah kita. Padahal perbedaan lokalitas itu bisa dijadikan penguat membangun identitas kita. Dan sekali lagi, terikat pada ruang, waktu dan tujuan pada saat itu.
Kalau sejarah itu oleh mahasiswa melembagakannya dalam Organda (organisasi daerah) maka bagaimana dengan usaha pemerintah? Tidak ada jalan lain selain memasukkan nilai lokalitas tersebut dalam konsep pendidikan pada perguruan tinggi maupun sekolah.
Read More