Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2015

Perjalanan Berilmu Empat Sekawan

Pallawangeng, demikian kata yang merujuk lokasi dimana Ponggawa dan teman-temannya berada saat ini. Saat dimana senja telah berlabuh, matahari telah benar-benar berpulang meninggalkan siang menuju malam, tak ada lampu jalan dan rumah warga, yaa mereka sedang tidak berada di perkampungan warga. Yang ada hanya mereka berempat dengan fisik yang sedang ngos-ngosan. Hanya cita-cita akan berada di tempat dengan suasana yang masih alami yang masih menguatkan kaki mereka melangkah. Air terjun Mittie dan Goa Mampu menjadi impian bersama mereka. Air terjun Mittie yang konon katanya membawa khasiat bagi mereka yang masih jomblo atau menambah rezeki bagi mereka yang kesusahan. Goa Mampu yang dipercaya oleh warga setempat tercipta dari manusia yang menjadi batu karena dosa salah seorang warga yang berbicara dengan seekor anjing. Keduanya berada di satu lokasi yang sama di Kacamatan Uloe, Kabupaten Bone.
Perjalanan nekat oleh empat sekawan masa SMA ini bermula saat pertemuan di malam reuni sekolah. Cerita Goa Mampu pernah mereka dengar saat masih duduk di bangku SMP pada mata pelajaran bahasa daerah. Sejak dulu sebenarnya mereka berkeinginan mendatangi tempat itu tapi belum pernah terwujud sampai mereka menyelesaikan SMA dan meninggalkan kampung mereka, Kabupaten Sidrap. Mereka harus menempuh sekitar 110 KM melewati jalan raya dan terkadang gunung dan sawah sebagai jalan alternative agar lebih dekat. Mereka memang sengaja memilih berjalan kaki. Perjalanan itu melewati kabupaten Sidrap menuju kabupaten Soppeng sebelum sampai kecamatan Uloe, Kabupaten Bone.
“Kita harus berada di sana liburan kali ini” ucap Ponggawa berusaha untuk memprovokasi teman-temannya.
“Saya mau sekali tapi saya harus balik cepat ke Makassar kawan, kan saya sementara koas di rumah sakit, tidak bisa absen sehari saja nanti berpengaruh jelek pada nilai ku” ungkap Jannah, mahasiswa fakultas kedokteran, yang mengemukakan alasannya.
Jannah dikenal siswa cerdas saat duduk di bangku SMA. Juara kelas tidak pernah lepas dari tangannya sejak kelas 1 sampai 3 SMA. Dia pun sempat mewakili kabupaten Sidrap di tingkat provinsi Sulawesi Selatan pada lomba debat bahasa Inggris, tapi sayang tidak mendapatkan juara. Jannah telah menyelesaikan strata satu pada fakultas kedokteran universitas swasta terkemuka di Kota Makassar dan sedang menempuh koas pada stase Ilmu Kesehatan Masyarakat yang merupakan tingkat II dalam menyelesaikan profesi dokternya.
“Agak sulit bagi saya karena kan harus ziarah kuburan dulu” Mario memberi alasan kemungkinan tidak bisa ikut.
Kebiasaan masyarakat Bugis adalah menziarah kuburan keluarga menjelang ramadhan atau setelah ramadhan. Mario baru pulang kampung menjelang idul fitri sehingga memilih untuk pergi ziarah kuburan ibunya setelah salat idul fitri. Sebenarnya dia merencanakan pergi sesaat setelah solat id namun dia juga harus bersilaturahmi ke rumah keluarga.
“Aahh itu soal gampang Jan, kan kita cuman sehari di sana, pergi pagi tiba sore, tapi gimana dengan Rio yaa? “kelihatannya Ade begitu bersemangat.
“Kita pergi abis Mario ziarah kubur gimana” Ponggawa berusaha memberi solusi.
Ketiga temannya mengangguk bertanda setuju. Begitu lah mereka sedang melakukan layaknya tudang sipulung mendiskusikan rencana perjalanan mereka. Keempatnya bertemu di acara reuni SMA yang selalu dilaksanakan oleh pengurus alumni setelah ramadhan atau beberapa hari setelah pelaksanaan solat idul fitri.
Mereka berempat begitu tampak berbeda. Mereka kini sangat jarang bertemu secara langsung dan komunikasi lagi. Sekitar 5 tahun yang lalu terakhir mereka begitu dekat, bersama-sama dalam organisasi Pramuka. Kini, mereka bertemu sekali dalam setahun, itu pun kalau sempat menghadiri acara reuni di sekolah. Kecuali Ponggawa yang tidak melanjutkan kuliah di kota Makassar, dia memilih menikah dan menjadi petani. Baginya mengerjakan sawah adalah pekerjaan leluhur bagi orang Bugis. Masyarakat Bugis begitu menghormati nasi sehingga orang tua selalu memarahi anak mereka bila menyisahkan nasi saat selesai makan. Bagi masyarakat Bugis, padi adalah jelmaan anak dewa yang dituliskan dalam kisah la galigo. Anak pertama yang meninggal dari penghuni pertama kehidupan dunia ini dimana kuburannya tiba-tiba berubah menjadi sawah yang ditumbuhi padi. Sedangkan Jannah sejak kecil memang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Mantan ketua Pramuka SMA itu akan memilih menjadi penjahit seandainya tidak lulus di fakultas kedokteran melanjutkan profesi dari ibunya.
Sementara Mario yang sekarang ini sedang berusaha menyelesaikan penelitian skripsinya yang telah di program selama 3 semester pada fakultas hukum di universitas negeri di kota makassar, saat ditanya kenapa lama sekali menyelesaikan penelitiannya, Mario punya alasan sendiri. Baginya penelitian adalah karya ilmiah yang harus dikerjakan secara maksimal agar nantinya tidak hanya menjadi pajangan di sudut perpustakaan kampus. Kedengaran idealis tapi tidak rasional karena tepatnya Mario lebih menyibukkan diri dengan kamera. Benar saja perjalanan ini, dia lah yang menjadi “tukang” foto-foto.
Sesal datang diantara keputusasaannya, kenapa harus berada di sini, bukankah Makassar akan lebih nyaman.
“Aduh seandainya saya tidak ikut” ucap Ade memilih mengungkapkan perasaannya.
“Seandainya saya tidak masiri, saya sudah pasti memilih pulang, menunggu angkot menuju kabupaten Sidrap” gumamnya lagi.
Siri lah yang menguatkan Ade masih bisa melangkah. Diam-diam dia masiri pada Jannah yang masih kuat kelihatan masih tegak dengan ransel yang ada di pundaknya. Yaa, alumni S1 jurusan biologi pada universitas negeri di kota Makassar ini merasa malu sebab nafas teman perempuannya itu masih saja joss.
“Tenang saja De, ini uda dekat, sabar sedikit sappo (sapaan teman seumur)” Ponggawa berusaha memberi semangat.
“Dekat dari mana? Ini GPS saja tidak temukan, not found” Ade membalas merasa tidak yakin
“Iya sappo, memang lokasi ini belum di daftar jadi belum ditemukan, nanti kamu yang daftar yaa, hehe” Mario menambahkan sambil tetap memotret dari kamera yang dikalungkan pada lehernya.
“Oke mari kita lanjutkan perjalanan lagi, warga sebelumnya kan bilang uda dekat setelah bukit di depan itu” ungkap Jannah sambil mengambil langkah pertama.
Mereka berjalan lagi, lalu keringat kembali mengering saat berjalan di bawah pohon-pohon lebat di atas bukit. Maghrib telah mengantar mereka mengucap syukur atas pohon yang masih terjaga. Ada gercikan air sungai berbatu yang dilalui manambah syahdunya maghrib saat itu. Ada pohon rambutan, sirsak dan mangga di sana. Kesemuanya sepertinya tidak bertuan, tumbuh karena proses alami. Ketiganya memang bisa tumbuh bila ketersediaan air yang memadai.
“Sappo, coba kita fikirkan keberadaan satu pohon rambutan ini. Tiap-tiap pohon buahnya berlainan menurut jenisnya, ada yang manis dan ada yang tidak manis. Ada yang berkulit merah, ada yang berkulit kuning. Padahal semuanya memperoleh air yang sama dan tumbuh di atas tanah yang sama. Kenapa coba?” Ade memancing teman-temannya untuk berfikir.
“Ahh ada-ada saja kamu De, kamu tidak baca itu, orang ngos-ngosan dilarang berfikir, melainkan melangkah saja, hehe“ Ponggawa menghela sambil mengambil satu buah rambutan.
“Bilang saja kamu malas berfikir Ponggawa, hahaha” Mario mencandai temannya itu, dia tahu temannya itu memang bukan tipe pemikir melainkan pekerja.
“Karena perbedaan jenis terkandung di dalam inti sel biji-biji rambutan itu” Jannah spontan menjawab.
Ade mengangguk membenarkan jawaban temannya itu, dia memang mengakui Jannah sejak di sekolah.
“Andai kamu salah pun saya benarkan, bagiku kamu selalu tepat, tepat berada di hatiku, as always, Jan!” gumam Ade yang diam-diam mencintai Jannah.
“Air ini mengalir kemana coba? Sifat air selalu mengalir ke tempat landai, kemungkinan ini menuju air terjun, berarti kita sudah dekat dong yaa” Jannah mencoba menganalisa.
Sekali lagi, Ade dibuat terpukau
----
Mereka telah tiba di Goa Mampu dan air terjun Mittie. Sebenarnya tidak ada yang nampak istimewa selain cerita masa lalu dari goa dan mitos khasiat dari air terjun tersebut. Air terjun disebut Mittie sebagaimana berarti tetesan yang tidak deras, diyakini tetesan air dewa yang tidak pernah kering meskipun di musim kemarau. Sementara di dalam goa Mampu terdapat beberapa batu berbentuk menyerupai kepiting, kerbau, kemaluan wanita, serta adanya kuburan yang menambah mistiknya goa tersebut.
Suara jangkrik setia menemani istirahat 4 sekawan dari kabupaten “nenek mallomo” ini. Gemercik air terjun turun seakan seperti paduan suara yang berirama. Malam sungguh tidak dapat mendahului siang, Tuhan menjadikan malam melingkari siang dengan gelapnya. Malam akan terasa panjang bagi mereka dengan rasa letih yang terasa.
“Huk huk” suara batuk Ade memecah kesunyian itu.
“Angin kota ternyata tidak sama dengan angin desa yaa De, hehe“. Ponggawa mencoba mencadai temannya itu.
“Ahh ada-ada aja kamu Awa, tiba-tiba tenggorakan gatal, tidak tau kenapa yaa?” Ucap Ade yang masih batuk.
“Hey, Jan mau kemana kamu?” Ade mencoba menghentikan gerak Jannah yang bangun dari pembaringannya.
“Tenang aja, wait a minute!” Jannah meyakinkan temannya sambil berlalu.
Jannah datang dengan beberapa buah belimbing di tangan.
Ketiga temannya kemudian heran, untuk apa buah itu. Buah belimbing di kabupaten Sidrap dikenal dengan nama ceneneng sedangkan di kabupaten Bone dinamai binang. Masyarakat Bugis biasanya membuat buahnya menjadi sayur. Pohon belimbing ini banyak dijumpai dibagian depan rumah masyarakat bugis sebagai pengganti pagar.
“Nah ini bunga buah belimbing, kamu masak bunganya itu pake air yang mendidih yaa, in shaa Allah batuknya sembuh” Jannah menyodorkan beberapa bunga yang sudah dipisahkan dengan buah belimbing.
Bunga buah belimbing oleh orang Bugis dipercaya bisa menyembuhkan batuk yang diakibatkan gatal pada tenggorokan.
“Ko’kamu tahu sih Jan” Ponggawa kurang yakin sambil mempersiapkan air panas.
“Makanya berilmu” Jannah sedikit judes pada temannya yang kurang yakin itu.
“Ibn Sina telah mengkaji sejumlah besar tumbuh-tumbuhan yang diketahui pada masa itu. Beliau menyebut berbagai tumbuh-tumbuhan herba, tanaman-tanaman berbunga, jamur (fungi), ganggang (algae) dan melakukan penelitian mengenai genera tanam-tanaman berbagai spesies yang berlainan bagi setiap genus. Beliau juga membuat catatan mengenai tumbuhan yang sama dan tidak sama dan membahas tentang tempat kediaman asli (habitat) bagi setiap tumbuh-tumbuhan dan tanah yang sesuai bagi tumbuh-tumbuhan tersebut, apakah bergaram atau tidak bergaram, nah kamu sebenarnya juga bisa seperti itu Awa, tulis manfaat tanaman lokal di kampung kita dan penamaan masyarakat lokal, kamu bisa jadi pengganti Ibn Sina, hahaha” Jannah menjelaskan sambil menantang temannya itu.
“Ibn Sina juga menceritakan warna-warna bunga dan buah-buahan. Apakah keras atau kering, daunnya lebar atau sempit, bergigi atau semuanya bertepi. Beliau juga memberikan nama-nama yang bermacam-macam bagi tiap-tiap tumbuhan dan bentuk setempat. Naah, kamu juga bisa Awa, kan kamu tinggal di kampung jadi kumpul semua tanaman lokal terus namai sesuai penyebutan lokal dan list juga manfaatnya” Ade menambah penjelasan sahabat perempuannya itu sambil meliriknya berharap mendapat perhatiannya.
“Aku yes” Ucap Mario sambil menirukan gaya bintang penyanyi di acara televisi swasta itu.
“Tidak ada penyakit yang diturunkan Allah melainkan juga diturunkan obat baginya” Spontan Ponggawa berbicara menirukan apa yang pernah didengar di masjid dekat rumahnya saat Ramadhan lalu.
Ponggawa sebenarnya dikenal siswa yang cerdas sewaktu SMA tapi sayang kondisi ekonomi orang tuanya yang kurang mampu membiayainya sampai ke perguruan tinggi sehingga dia memilih melanjutkan profesi bapaknya sebagai petani.
“Hahaha kamu boleh juga jadi ustad sappo” Mario ketawa lepas sambil menggaruk belakangnya.
“Ketawa sih bole tapi saya liat kamu itu dari tadi menggaruk aja kerjanya, gatal kenapa? Untuk apa itu kamera dianggurin” Ponggawa menegur temannya itu sambil tetap memperhatikan bunga ceneneng yang masih direbusnya.
Giliran Ade beraksi. Ade mengambil serai yang berada beberapa meter dari mereka, segera dia kucek daunnya dan dibiarkan disimpan disekitar tempat tidur mereka.
“Semua bagian dari tanaman ini bisa mengusir nyamuk karena aroma zat aktif geraniol” Ade menjelaskan singkat manfaaat tanaman serai yang bisa mengusir nyamuk.
“Ada cara yang lain De” ucap Jannah sambil mengambil daun serai dan menyiapkan air di dalam gelas, mengucek daunnya dan menyimpan dalam gelas yang berisi air tersebut”
“Ahh sama saja, itu karena daunnya yang mengeluarkan aroma yang bisa mengusir nyamuk” sahut Ade yang merasa ditantang oleh pujaan hatinya itu.
“Takkan kubiarkan nyamuk menyentuhmu Jan, Aku rela mengorbankan bahkan andai serai ini tidak berguna, aku akan begadang semalam menjaga, aahh malam ini akan bercemburu pada nyamuk” Gumam Ade yang tambah kagum pada Jannah.

Malam semakin larut. Berlalu dengan canda tawa empat sekawan ini. Berbagi cerita masa lalu yang tidak saja berakhir. Di depan mereka nyata air terjun, yang dikelilingi tumbuh-tummbuhan dan goa yang penuh cerita mistik. “.... dan kamu lihat bumi kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi dan suburlah isinya menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan” Ponggawa menerawang langit berhiaskan bintang merasa bersyukur masih bisa menikmati malam seperti ini bersama sahabat karibnya yang terakhir dirasakan saat masih aktif sebagai pengurus Pramuka di sekolah.

Sidrap, Juni 2015

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati danNulisbuku.com
Read More

Minggu, 20 Januari 2013

Malam Jumat Di Wisma Arpal -- Yogyakarta



Ada kue, teh, lantunan ayat alquran, teman2 asrama dan ibu-ibu dekat asrama Arpal. Mereka seakan bercengkrama tiap malam jumat tiba. Sekali sepekan menjadi rutinitas yang tak terasa. Telah kurang dari lima bulan kegiatan ini berlangsung. Ada spirit belajar dan menuntun ilmu. Ada ruang pemisah antara maghrib dan isya. Yang tidak ada, hanya guru dan murid. Mereka menjadi satu dalam usaha berkah Allah. Meski salah satu teman menjadi fasilitatornya, ust. Jusmail ;).  Sungguh saya berharap akan selalu berada di antaranya.
Entah malam ini, kenapa pikiran aku kembali pada beberapa tahun yang lalu sejak masih di Kota Makassar. Di subuh hari, melihat kakek itu berdiri bungkuk, tunduk, dan bersilah di masjid dekat kost. Dia begitu rajin tiap subuh dia menjalankan kewajibannya. Yang ada hanyalah diriku yang sering dilanda malas bersama pemalas-pemalas lainnya. Tidur nyeyak bahkan gigitan nyamuk pun tidak terasa. Terkadang hanya terdengar hentakan kaki jamaah masjid yang lagi olahraga jalan kaki setelah menjalankan sholat. Inilah penyesalan, sungguh.
Malam ini pun aku terkesima melihat tiga ibu-ibu (kalau boleh dibilang nenek-nenek) begitu antusias belajar bersama kami. Bahkan terkadang lebih semangat dari aku. Bahkan mereka lebih sering mengingatkan dari pada teman asrama lainnya. Bahkan diriku pun masih sering lupa jadwal ngaji ini. Mungkin saja Tuhan mengirim aku di sini untuk belajar dari mereka, bukan hanya sekedar belajar ilmu manusia yang sedang saya geluti sekarang. Bahkan mereka lebih fasih dari aku. Aku kelihatan bodoh diantara mereka. Begitu semangat memperbaiki dikala aku salah dalam pengucapan. Tuhan begitu adil mengirim mereka sebagai pengingat hidup ku. Sungguh, masih ada ruang dan waktu untuk belajar. Dan Tuhan akan selalu memfasilitasi kita belajar kalau mata ini masih melek.
Kini, malam jumat di asrama akan selalu ku rindu. Malam dimana aku bisa makan kue buatan “nenek” tetangga asrama. Malam yang menyejukkan tenggorokan dengan makanan dan tehnya. Malam dimana ada lantunan kalam ilahi. Malam yang menambah amunisi iman ku.
Tak sengaja melihat salah satu tulisan teman kamar, Dabb Lana menulis ungkapan “Asrama, bukan Cuma t4 berteduh akan hujan dan panas, tapi t4 untuk berlindung dari hiruk pikuk-suka duka Kota Jogja”. Tulisan ini oleh teman ditulis di belakang pintu kamar. Kalau aku bisa menambahkan setelahnya maka akan ku tulis “…. t4 belajar makna usia hidup”
Ayo-ayo teman-teman asrama Arpal dan warga FKMBY datang ki belajar ngaji bersama setiap malam jumat di wisma Arpal. Mungkin kita akan menambahkan ungkapan dari dab Lana diatas dengan makna pelajaran yang kita dapat.
Read More

Jumat, 18 Januari 2013

Pengukuhan Pengurus FKMB Yogyakarta 12 - 13



Pengukuhan pengurus baru Forum Komunikasi Mahasiswa Bone Yogyakarta periode 2012-2013 di gedung Balaikota Yogyakarta meninggalkan cerita mengesankan. Bukan hanya proses pengukuhannya saja melainkan karena secara keseluruhan kegiatan mulai dari awal sampai akhir. Peserta yang hadir cukup banyak yang hanya menyisahkan beberapa kursi kosong yang tersedia sebanyak 150. Mereka datang dari berbagai induk kemahasiswaan daerah Sulawesi Selatan yang sedang menempuh study di kota Yogyakarta.
Ruang pertemuan Balaikota malam itu tentu agak berbeda dari biasanya. Ada borasa, songko recca, sarung sutera yang kesemuanya bernuansa Bugis khususnya Bone. Acara dimulai dari master of Ceremony yang nampak anggun dengan baju khas Sulawesi Selatan yang dikenakan. Baju bodo untuk perempuan dan jas hitam kombinasi sarung dan songko recca oleh laki-laki telah sukses membuka acara dengan sapaan santun agamis dan budaya. Sebelumnya ada acara pengkondisian oleh teman-teman sanggar seni We Cudai yang menghibur tamu undangan dengan lagu-lagu hits nasional maupun lokal Bugis. Sungguh malam paduan pembukaan yang elok.
Tarian bosara padduppa telah menghipnotis tamu yang hadir. 3 ana dara bugis berlenggok dengan ramah telah menyambut tamu undangan. Sapaan senyum tentu saja sumbringah dari tamu yang ada dalam ruangan. Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan yang juga merupakan Dekan fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia tak tahan menepuk tangan berkali-kali. Ada Bang Doddy, sang penasehat organisasi, yang juga merupakan orang tua bagi teman-teman mahasiswa dari Bone khususnya, sekretaris jenderal DPP Ikami Sul-sel yang juga telah bersengaja dari Jakarta menyempatkan waktunya hadir, ketua kerukunan angin mammiri Sulawesi selatan, penasehat FKMBY lainnya, merupakan tamu undangan yang pastinya telah merasa beruntung tidak melewati acara ini.
Ketua KKSS yang berkesempatan memberi sambutan merasa tertarik dengan tema yang pengurus angkat pada tahun ini. Dua kata yang dianggap penting oleh masa depan bangsa ini adalah amanah dan integritas. Keduanya merupakan pondasi utama oleh seorang pemimpin yang juga merupakan cerminan kita manusia Bugis. Hidup rantau seharusnya menjadikan kita tetap amanah akan kepercayaan dari orang tua yang telah mengizinkan dan membiayai. Integritas akan tetap melihat fenomena daerah dengan semangat dorongan pembangunan yang tak mungkin dielakkan lagi. Mahasiswa haruslah menjadi bagian pendukung dari perkembangan tersebut. Dan, tak lupa menitipkan motivasi akan keseimbangan antara kampus, orgnaisasi dan pribadi. Nilai akademik kampus harus bagus, tetap aktif berorganisasi, tetap menjaga kehidupan sehari-hari. Sukses akademik, sukses organisasi dengan pacaran sehat. Malam yang berkah dengan wejangan sangan Doktor Hukum.
Bulan semakin menanjak, semangat teman-teman tak berkurang. Penampilan tari songko’ recca oleh 3 penari yang juga merupakan mahasiswa asal Bone telah menambah keriuhan malam itu. Tari yang menggambarkan bagaimana orang Bone membuat Songko To Bone atau yang lebih sering juga di sebut Songko Recca. Topi ini bukan hanya penghias melainkan juga biasa menampakkan strata sosial dalam kehidupan Bugis. 3 teman yang menari telah berhasil menggeserkan posisi duduk peserta semakin ke depan, begitu bersemangat untuk melihatnya dengan seksama, mata yang seakan meminta untuk tidak berkedip, getaran hape yang biasanya mendapat respon cepat kini hanya dibiarkan menganggur sementara, mulut hanya mampu berkomat-kamit layaknya sedang bertasbih. Sungguh perpaduan malam yang syahdu.
Penasehat lembaga yang diwakili oleh bang Dody yang berkesempatan memberi arahan diatas podium kembali tak bosan mengingatkan cerita sukses FKMBY di masa lalu. Beliau selalu nampak bersemangat saat bercerita tentang kampung halaman kita BONE. Meski hidup rantau di pulau Sumatera namun semangat keBoneannya tetapi eksis dalam dirinya. Bahasanya masih amat fasih berucap lontara, sejarah tentang Bone tetap terniang dalam benaknya bahkan (mungkin) melebihi teman-teman yang lahir dan besar di Bone sendiri. Malam yang telah menyentil keilmuan akan daerah yang penuh cerita sejarah ini. Proud to be BONE.
Kembali, tak ingin melewatkan rangkaian acara. Hiburan dari teman sanggar seni Arung Palakka telah mengusung penampilan malam itu dengan tema “gerakan jaringan nusantara”. Teman-teman mahasiswa keturunan Bone yang hidup di tanah rantau (sabang sampai marauke) merasa bangga menampilkan kesenian dari asal rantauannya. Sekali lagi, tamu tak mampu menahan senyum ikhlasnya.
Rasa syukur malam singkat itu di tutup dengan doa oleh salah satu mahasiswa. KarenaNya kami hadir dan kepadaNya pulalah kami kembali, yang mempertemukan dan memisahkan, kepadaNya kita tunduk dan berserah. 
YK, 16/1/13
Read More