Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2015

Sekolah Itu Hijab

Permasalahan Sekolah
“Saya telah dua hari tidak bersekolah Bang. Sepertinya sekolah ini tidak berguna. Lebih baik saya bekerja saja di sawah/ladang setelah itu mendapatkan uang” demikian kutipan yang merupakan jawaban dari seorang anak berusia 12 tahun tentang ketidaktertarikannya lagi mengikuti proses belajar di sekolah. Kisah nyata yang dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul “sekolah dibubarkan saja!” oleh seorang sosiolog asal Minang, mencoba menggambarkan bagaimana proses pendidikan yang tidak mampu menjawab kebutuhan nyata dari anak didik di sekolah.
Makna kritik yang lain dengan bahasa yang berbeda pada sebuah sinopsis buku yang ditulis oleh Roem “tak kurang dari dua belas tahun waktu yang dibutuhkan untuk bersekolah. Sungguh merupakan rentang waktu yang panjang dan bisa jadi sangat menjemukan. Apalagi kalau hanya sekedar di isi dengan duduk, mencatat, bermain dan yang paling penting mendengarkan guru ketika berceramah di depan kelas. Lalu apa hasil dari duduk-duduk selama belasan tahun itu? Lewat sekolah, seseorang bisa mendapatkan penghormatan tetapi bisa juga mendapatkan cemoohan, atau bahkan mendapatkan kedua-duanya. Ya memang sekolah mampu mencetak seorang anak manusia menjadi pejabat sekaligus penjahat”. Begitulah sinopsis dari buku “Sekolah itu candu” yang mencoba mementahkan segala eksistensi dan pentingnya sekolah bahwa peran sekolah tidak menjadi faktor utama yang menentukan masa depan seseorang.
Pada pertengahan tahun 2014 saat presiden Jokowi yang dipercaya oleh rakyat melalui pemilihan presiden untuk memimpin negeri ini, dengan berani mengangkat pejabat setingkat menteri yang tidak sempat mengenyam pendidikan pada perguruan tinggi bahkan tidak menyelesaikan pendidikan jenjang menengah atas. Hal ini menjadi momentum pembuktian lagi bahwa sekolah itu tidak menjadi sesuatu yang mendesak untuk dipenuhi dalam usaha menjadi manusia bermanfaat bagi bangsa.
Busro Muqaddas (Bernas Jogja, 22 April 2014) mengungkapkan bahwa bagaimana peranan Perguruan Tinggi (PT) yang tidak hanya minim perannya dalam tata kelola, namun Sumber Daya Manusia (SDM) di PT juga tidak berperan dalam pemberantasan korupsi, termasuk dalam melakukan checks and balance. Seharusnya PT ikut berupaya merekonstruksi birokrasi yang bernafas pembebasan sistem yang korup baik melalui tradisi intelektualisme maupun evaluasi kurikulum (referensi kurikulum dan metode kuliah).
Realitas Pendidikan
Hari ini, pendidikan dapat dipandang mempunyai nilai perspektif konsumsi dan produksi (ekonomi). Perspektif konsumsi mendudukkan pendidikan sebagai yang harus dipenuhi oleh setiap orang, sehingga pendidikan dipandang sebagai sarana untuk memuaskan atau memenuhi kebutuhan manusia. Tingkat pendidikan bahkan menjadi status sosial seseorang dalam lingkungan sosial. Semakin tinggi tingkat pendidikan akademik seseorang, maka akan semakin dihormati dalam kehidupan sosial. Dalam perspektif produksi, pendidikan dianggap sebagai investasi baik individu, kelompok/masyarakat ataupun bangsa. Kepentingan bangsa berkaitan dengan produk pendidikan yang sangat diperlukan bagi kelangsungan dan percepatan pembangunan. Selain itu, individu dan masyarakat/kelompok menjadikan pendidikan juga sebagai lahan investasi. Hal ini bisa kita lihat dari berkembangnya lembaga atau yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Trend ini menjadikan bidang pendidikan semakin terkomersilkan (industri pendidikan).
Sekolah mulai dibisniskan. Pendidikan bukan lagi upaya mencerdaskan akan tetapi merupakan salah satu aset untuk mencari dan mengeruk keuntungan semata. Dana pendidikan diselewengkan, kapasitas lulusan yang tidak sesuai dengan pasar, pelatihan dan kursus yang menjamur sebagai persiapan bagi mereka yang akan dan ingin bekerja. Kalau memang sekolah menyiapkan lulusannya untuk menghadapi dunia kerja, mengapa masih marak kursus dan pelatihan yang diadakan sebelum seseorang memasuki dunia kerja? Bukankah ini bukti bahwa sekolah dan sistem pendidikan yang ada tidak membantu mempersiapkan lulusannya sesuai dengan permintaan pasar kerja.
Bourdieu (2010) menjelaskan pembentukan sosial apapun distruktrukan melalui serangkaian arena yang terorganisasi secara hierarkis (arena ekonomi, arena pendidikan, arena politik, arena kultural, dll). Kaitan arena dalam hal ini adalah arena pendidikan dimana sekolah menjadi arena investasi pendidikan dimana kepentingan tertentu dipertaruhkan bahkan jika kepentingan-kepentingan tersebut diingkari pelakunya (pengelola), atau pasti ada ‘investasi’ tertentu meski tidak pernah diakui sebagai sebuah investasi. Ini yang disebut oleh Bourdieu sebagai arena prooduksi-terbatas. Hal ini bisa dimaknai bahwa sekolah adalah produsen dimana motif untuk memperoleh laba ekonomi biasanya disangkal dengan sebuah alasan niat pengabdian. Anak didik dijadikan sebagai konsumen dengan hasil akhir adalah kelas-kelas sosial atau fraksi-fraksi kelas (modal ekonomi/akademis).
Sekolah adalah hijab, nyatanya bisa menjelaskan realitas pendidikan hari ini. Hijab adalah dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain. Proses pendidikan pada jenjang sekolah telah berhasil membuat strata sosial baru dalam masyarakat. Bagi mereka dengan gelar tinggi akan diposisikan tinggi pula dalam sosial. Bagi mereka dengan modal besar, bisa mendapatkan modal ekonomi (kultural) tambahan dari investasi pendidikan ini. Sekolah telah berhasil menciptakan “kau” adalah “kau” dan “aku adalah “aku, bangunan sekolah itu telah memisahkan “kau” dan “aku”. Sekolah berhasil menjadi hijab nyata yang memisahkan “kita”.
Solusi
Institusi pendidikan yang hari ini kita sebut sebagai sekolah seharusnya tidak dibatasi dengan berbagai macam “tetak bengek” kebijakan, kakunya kurikulum, sampai pada hal-hal kecil dari mulai memakai seragam, model gaya rambut dan lain sebagainya. Manusia, yang disebut sebagai anak didik yang berada di dalam institusi sekolah itu seharusnya lebih mampu merasakan kebebasan, tidak dikurung dalam kelas, ruang gerak dibatasi, yang akhirnya jiwa kemerdekaannya terenggut oleh kebijakan kaku sekolah yang berujung menjadi anak penakut atau malah anak yang kebablasan (kenakalan remaja). Berilah mereka ruang ekspresi yang luas, bukannya saat anak didik itu mencoba keluar dari jalur yang telah ditentukan oleh pemilik sekolah, menciptakan terobosan diluar umumnya suatu sekolah, pemerintah main hakim sendiri, tidak mau mengakui dan mengkalim mereka (anak didik) sebagai siswa nakal.
Sekolah adalah taman (1998), dimana tempat untuk menyempatkan waktu luang. Kalau hari ini sekolah dijadikan sebuah investasi pendidikan baik pemerintah maupun swasta maka sekolah haruslah mampu menjawab kebutuhan siswanya. Investasi yang memberi kenyamanan dalam proses belajar demi menunjang masa depan anak didik. Seperti sebuah taman, dimana perasaan aman dan nyaman dirasakan, begitulah semestinya sekolah dihadirkan.
Chatib (2011) menjelaskan bahwa setiap institusi sekolah di dalamnya ada manusia maka proses belajar mengajar akan berhasil apabila dilakukan secara manusiawi. Sekolah seharusnya mampu memotret keragaman gaya belajar siswa sehingga guru mampu masuk ke dalam dunia siswa. Kondisi ini akan menciptakan proses mengajar menjadi seni yang tidak bernilai dimana siswa dan guru akan menikmati proses bersama.
Bangunan sekolah yang telah menjadi investasi pendidikan ini seharusnya hadir dengan konsep manusiawi yakni memberi kenyaman dalam proses belajar dan menjawab kebutuhan siswa. Sekolah hadir dengan tidak menjadi hijab, yakni ruang pemisah antara bangunan dalam sekolah dan realitas yang ada di kehidupan sebenarnya atau menjadi ruang yang memahami bahwa setiap siswa adalah unik dengan kebutuhan yang beragam.


Read More

Senin, 09 Desember 2013

Selayak "Green Psychology"



Empat tahun yang lalu ketika masih berstatus mahasiswa pada kampus biru “Makassar” sesuai dengan program akademik mengharuskan mahasiswa untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kuliah secara nyata bersentuhan dengan masyarakat, saya mendapat lokasi belajar di daerah pinggiran Kabupaten Wajo berbatasan dengan kabupaten Sidrap menyisahkan banyak cerita. Mulai dari perjalanan yang agak kacau dengan lubang di mana-mana sampai pada kondisi rumah yang di tempati tak memiliki toilet. Penempatan mahasiswa hanya di desa yang kemudian di bagi ke beberapa dusun. Saya mendapatkan dusun yang paling ujung dari desa tersebut dan berbatasan langsung dengan danau Tempe. Sebagai seorang yang mengkoordinir kegiatan KKN ini mengharuskan saya untuk selalu mobile antar dusun melihat realisasi program kerja atau hanya sekedar say hallo. seperti KKN sebelumnya, mata kuliah yang telah banyak menghasilkan alumni ini, program kerja selalu diarahkan pada pengembangan pembangunan fisik lokasi. Serupa dan tetap sama saja, begitupula yang kami lakukan, pengecetan pagar kantor desa, tapal batas desa, pembuatan gapura dusun, pengecetan masjid, dan lainnya.
Bagi saya pribadi, kehidupan masyarakat di lokasi ini begitu komplit dan kompleks. Komplit karena lokasi ini di tinggali oleh penduduk desa yang rajin, teramat rajin, hingga di pagi hari bahkan sebagian sebelum matahari terbit, mereka telah keluar rumah menuju sawah. Dusun yang saya tinggali begitu sepi di pagi hari dan akan sangat begitu ramai menjelang maghrib. Semangat kerja keras dari warga ini juga didukung oleh tanah di lokasi ini yang begitu subur. Lahan yang ditanami jagung juga bisa ditanami cabe di antara pohon jagung tersebut. Lahan mereka tidak pernah nganggur. Tiap tahun selalu berporduksi dengan berbagai macam tanaman sayuran.
Apa yang membuatnya demikian kompleks. Yaa, kepercayaan agama mereka yang masih mempercayai selain Wujud Esa Tuhan. Tepatnya di dusun saya, beberapa lokasi sesajen diperuntukkan untuk sesuatu yang gaib yang dianggap penguasa bumi. Namun ada yang unik dari cara yang mereka lakukan, di tempat lain biasanya akan mendatangi kuburan atau pohon besar. Namun di sini, selain kuburan dan pohon, para penyembah ini membawa karikatur rumah dan boneka. Keduanya ditempatkan pada lokasi yang memang telah ditentukan (sekitar kuburan dan lahan sawah). Mereka menganggap karikatur rumah itu akan benar-benar bisa nyata dimiliki kelak. Olehnya tidaklah mengherankan kalau karikatur rumah itu kelihatan mewah. Sedang boneka yang dibawa, bisa berupa buatan sendiri atau yang dibeli dari toko. Mereka merefleksikan boneka tersebut adalah mereka.
Hal lain yang nampak menjadi unik adalah pemuda di sana yang banyak memiliki moge (motor gede). Melihat kondisi jalanan mestinya tidak cocok dengan motor sebesar itu. Tapi, dari mana mereka membelinya. Mereka, para pemuda yang tamat SMA pun tidak tapi ternyata punya jiwa bisnis luar biasa. Mereka itulah yang sering menjumpai layar hape teman-teman dalam bentuk minta pulsa atau menang undian. Profesi dikalangan mereka sebut sebagai halo-halo, penyebutan ini karena setelah mendapat balasan dari calon korban, mereka kemudian berbicara (halo-halo) dengan kliennya.
Pengalaman KKN ini terasa ter-recall kembali karena hampir saja mendapatkan pengalaman yang sama. Bersama Skholatanpabatas pengalaman baru dimulai. Filed work dengan peserta dari berbagai kampus di Kota Makassar baik PTN maupun PTS menjadikan moment ini demikian kaya dengan beragama latar belakang pendidikan. Diantara mereka terdapat teman-teman relawan Skholatanpabatas yang telah terlibat dengan Skhola serta mereka yang belum pernah terlibat dengan lembaga ini.
Perjalanan dari kota Makassar menuju lokasi kegiatan sekitar 1 jam 20 menit. Kelurahan Langkeang, Maros terletak sekitar 20 menit dari arah barat ibu kota kabupaten Maros. Sepanjang perjalanan, mata akan di’hadiahi’ dengan pandangan sawah yang masih hijau atau beberapa petani yang masih menanam padi. Beberapa bukit batu diantara sawah juga nampak mempercantik pemandangan. Rumah panggung khas Bugis mempertegas bahwa kita sedang berada di wilayah masyarakat Bugis.
Kebiasaan mahasiswa yang tinggal di kota Makassar tentu saja berbeda dengan pola hidup warga yang ada di desa. Kebiasaan sehari-hari tentu lebih memudahkan dan menyenangkan bagi mahasiswa yang tinggal di kontrakan atau bersama orang tua dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap dibanding kondisi yang ada di Langkeang. Kebiasaan yang cenderung instan dengan kehidupan sosial yang mengarah pada pemenuhan akan diri sendiri, tentu berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Langkeang. Perkampungan ini masih memegang nilai-nilai sosial dalam hidup berdampingan dengan tetangga. Hal yang berbeda pada kehidupan perkotaan, dimana toleransi dan menjadi bagian satu sama lain merupakan nilai hidup yang sedikit demi sedikit tergeser.
Canda dan gurau masih bisa kita tatap pada sumur bersama yang dimanfaatkan oleh beberapa warga, seakan sedang melingkar bersidang tentang kerasnya hidup dewasa ini. Mata kita masih mampu melihat deretan masyarakat yang sedang tertawa dengan riuh di sepanjang aliran sungai. Gotong royong masih mampu kita rasakan di antara warga Langkeang. Demikian pula kita bisa melihat kebiasaan pada  pemenuhan sehari-hari warga dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Beternak, berkebun, bertani, berdagang di pasar tradisional, memanfaatkan pangan lokal di lingkungan sekitar untuk makanan sehari-hari serta sikap hidup yang bersahaja inilah menjadikan Langkeang sebagai potensi belajar bagi masyarakat/mahasiswa perkotaan pada hari ini dan kelak hari. Langkeang siap menjadi layaknya skhola kehidupan yang sesungguhnya.
Cerminan realitas masyarakat Langkeang ini dikemas dengan konsep live in dimana peserta tinggal bersama di rumah warga selama 3 hari menjadikan moment yang akan sulit terlupakan. Peserta akan mendapatkan orang tua angkat selama berada di sana sesuai dengan rumah yang ditinggali. Hidup bersama orang tua angkat dengan mengikuti aktifitas kesehariannya menjadikan pelajaran hidup yang menyenangkan. Meet and talk adalah saat peserta mampu bercerita banyak dengan orang tua angkat mereka. Berbagi kehidupan dalam sebuah cerita yang beragam akan memperkaya pengayaan pengetahuan para peserta.
Melihat potensi perkampungan merupakan hal yang juga penting untuk dilakukan sebagai bahagian dari proses pembelajaran. Konsep field work menjadikan keinginan ini akan lebih mudah tercapai. Pemetaan potensi Langkeang berdasar pada pendekatan Education for Sustainable Development (Pendidikan Untuk Pembangunana Berkelanjutan) memberi kesempatan peserta untuk mengembangkan metode dengan hasil maksimal. Pemetaan wilayah dengan melihat beberapa isu yang ada di sekitar Langkeang berdasar pada kebutuhan atau ketertarikan dari peserta. Hal ini bisa kita lihat pada isu seperti sampah, saluran air, MCK, ternak, mata pencaharian, pemberdayaan pemuda, dan pelayanan kesehatan.
Beragam isu yang hendak diketahui merupakan kesepakatan dari setiap peserta sebagai hasil brainstorming. Dari isu tersebut maka peserta akan dikelompokkan berdasar pada ketertarikan peserta akan isu yang hendak diketahui. Penggalian informasi dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Isu sosial ini merupakan guide secara tidak langsung bagi peserta untuk mencari informasi baik dengan observasi maupun wawancara. Keramahan masyarakat Langkeang akan memudahkan peserta dalam menggunakan teknik yang akan dilakukan dalam proses OW tersebut. Sebagai misal, peserta menggunakan tape recording, rekaman video, atau hanya sekedar bersenda gurau saat warga sedang melakukan aktifitas.
Education for Sustainable Development (ESD) memungkinkan peserta untuk belajar melihat bagaimana realitas sosial, lingkungan dan ekonomi yang ada di sekitar perkampungan. Beragam isu di atas merupakan hasil turunan dari ketiga aspek sosial, lingkungan dan ekonomi. Arah dari OW juga tidak akan lepas dari penggalian akan ketiga unsur tersebut. Sebagai contoh dalam melihat pemberdayaan pemuda yang ada di Langkeang. Hal yang bisa dilihat dari aspek sosial adalah bagaimana pemuda memanfaatkan waktunya, apakah dengan menjadi petani atau bekerja pada perusahaan terdekat. Kebiasaan merantau juga hal yang menarik untuk dicermati. Apakah mereka para pemuda mampu bergaul dengan baik dengan lingkungan sekitar (pemuka desa dan agama), ataupun hal yang lain yang merasa dibutuhkan untuk melihat pemberdayaan pemuda Langkeang. Beranjak dari realitas keberadaan pemuda tersebut, apa yang memungkinkan dilakukan dan dikembangkan oleh pemuda untuk memaksimalkan potensi diri dan desa. Pada aspek ekonomi, dari kegiatan mata pencarian yang sekarang dilakukan, yang umumnya bertani dan bekerja pada perusahaan, apakah telah mampu memenuhi kebutuhannya atau ada alternative lain yang bisa dilakukan. Pertimbangan aspek lingkungan tentu juga hal yang harus dilihat, keterlibatan pemuda bekerja pada perusahaan terdekat, bisa saja telah mampu menambah penghasilan, namun apakah perusahaan tersebut mampu bertahan lama dan tetap memakai jasa pemuda lokal, ataukah hanya akan meninggalkan kerusakan lingkungan kampung di kemudian hari. Tentu saja ini akan berimbas pada mata pencarian yang lain seperti lahan pertanian.
Pada isu pelayanan kesehatan, bagaimana pemanfaatan lingkungan yang ada di sekitar rumah, berbagai macam tumbuhan mungkin bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan. Dengan adanya pengobatan tradisional ini maka akan mengurangi pengurangan (ekonomi) warga karena tidak perlu lagi ke puskesmas atau dengan adanya tumbuhan tradisional tersebut mungkin bisa dijadikan sebagai tambahan penghasilan dengan memberi nilai tambah pada tumbuhan tersebut. Keberadaan dukun (sandro) yang masih dipercayai oleh masyarakat akan berdampak pada kehidupan secara menyeluruh. Usaha memaksimalkan posyandu sebagai bentuk pelayanan kesehatan dari pemerintah, serta kios yang ada di sekitar yang juga menjual obat menjadi pertimbangan sosial dalam melihat pelayanan kesehatan.
Begitupula kita bisa melihat isu yang lain dengan tetap berpatok pada ketiga aspek di atas (lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya). Dengan menggunakan pendekatan ESD ini maka memungkinkan peserta untuk melihat sebuah fenomena sosial secara terperinci dan menyeluruh. Ketiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Memahami secara berimbang realitas sosial yang terjadi dan mampu berfikir secara holistic dalam merancang masa depan yang mampu berkelanjutan.
Hasil dari pencarian informasi di lapangan yang berdasar pada beragam isu tersebut, kemudian dipresentasikan. Beragam cara yang dilakukan dalam mempresentasikan hasil kajian lapangan. Cara yang bisa dilakukan dengan memakai metode mind mapping, short movie, slide, drama, gambar dan lainnya. Agar semua peserta dalam kelompok mengetahui semua hasil kerja lapangan maka presenter dari perwakilan masing-masing kelompok dipilih oleh fasilitator. Pemilihan perwakilan kelompok juga dilakukan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Pemilihan bisa dilakukan dengan mengetahui siapa yang paling muda di antara teman kelompok, jempol tangan paling besar, atau petunjuk lainnya. Hal ini dilakukan agar hasil informasi lapangan yang dikemas dalam bentuk presentasi tersebut diharapkan dipahami merata oleh semua anggota kelompok.
Dari program ini tentu saja diharapkan peserta akan berfikir dan tergerak untuk berbuat lebih bermanfaat bagi lingkungan dan sesama. Dalam melihat sebuah fenomena akan selalu mempertimbangkan sebab akibat dari beragam aspek hingga pada penemuan titik keseimbangan yang akan berdampak pada keberlangsungan.
Skholatanpabatas saat Di Langkeang, Maros#






Read More

Senin, 02 Desember 2013

School, What Shape Is That?

To begin this paper, I would like to share what I am thinking about. There are many questions in my mind. Last week, I went to Makassar. One of my friends got married.  But, to be honestly, the most interested moment when I and other friends gathering in one internet shop belongs to my friends. We discussed about education. However, we focused on the moment when we still actively in the campus.
I asked one my friends who have internet shop, “after finishing our study, what did you got?” his respond make me shock, he said that I got nothing besides having new friends and absolutely I spend lots money. Then I asked the other one who has interested in business with a same question, he said so did I. then I want to I ask you, how do you see that my brother and sister in Islam?
The next question, I tried to explore more what advantaged of education is by asking both my friends. Then I asked him, “so what for we school if you got nothing?” He said for a piece of paper namely certificate. Is that true my brother and sister in Islam?
I got more interest to know deeply, what my friends would say for my next question which is “what is school?” “Why people should be there?” do you want to know what they said? They said that it is for spending our time and parents’ money. Hmmm … what do you think about it my brother and sister in Islam?
Then they asked me with a same question about the purpose of school. I only gave a short respond, I said “women will be getting more pretty when they wear school uniform?” then, they laugh.
It was a great night. I miss for the same moment discussed about the main idea of school. Then, we shared our different activity while a cup of coffee lost and forgot the mid night already came…. chhhhmmm.
This article is quite simple. However, we may discuss it with varieties opinion. There will be people say that school is really important to reach our goal in the future and there will be people also say that school is only a place to spend our age.
After finishing the school, we have right to get certificate. It is as a proof that people has already finished their obligation as student and also as the legally to continue for the next level or apply for the job. However, the certificate does not show the capability and skill at all. It is only show the score of pupil during they school.
That’s way, there are many things should be criticized from school managing. I will show you in the next paper.
Test, June, 19th 2011
Read More

Catatan Kecil Untuk Sekolah Ku

“Tak kurang dari dua belas tahun waktu yang dibutuhkan untuk bersekolah. Sungguh merupakan rentang waktu yang panjang dan bisa jadi sangat menjemukan. Apalagi kalau hanya sekedar di isi dengan duduk, mencatat, bermain dan yang paling penting mendengarkan guru ketika berceramah di depan kelas. Lalu apa hasil dari duduk-duduk selama belasan tahun itu? Lewat sekolah, seseorang bisa mendapatkan penghormatan tetapi bisa juga mendapatkan cemoohan, atau bahkan mendapatkan kedua-duanya. Ya memang sekolah mampu mencetak seorang anak manusia menjadi pejabat sekaligus penjahat”
Begitulah sinopsis dari buku Sekolah Itu Candu. Buku karangan Roem Topatimasang yang kontroversial di saat pemerintah baru gencar-gencarnya program wajib belajar 9 tahun, wajib bersekolah. Buku ini mementahkan segala eksistensi dan pentingnya sekolah bahwa peran sekolah tidak menjadi factor utama yang menentukan masa depan seseorang.
Berawal dari kisah Sukardal di tahun 2222 yang menemukan naskah terlarang tentang sekolah. Pembaca diajak mengenal sekolah dari masa awalnya hingga praktik yang berlangsung saat ini. sekolah yang berasal dari schola (latin) yang berarti waktu luang, orang tua yang menitipkan anak mereka untukmengisi waktu luang yang semakin lama berkembang dengan klasifikasi berdasarkan tingkatan dan materi sehingga akhirnya membentuk sistem kurikulum. yang awalnya tidak ada hal-hal baku, sekarang semuanya serba dibuat baku. Tak hanya sekolah yang menyeragamkan, sekolah juga mulai dibisniskan. pendidikan bukan lagi upaya mencerdaskan tapi merupakan salah satu aset untuk mencari dan mengeruk keuntungan semata. Dana pendidikan yang diselewengkan, kapasitas lulusan yang tidak sesuai dengan pasar, pelatihan dan kursus yang menjamur sebagai persiapan bagi mereka yang akan dan ingin bekerja. Kalau memang sekolah menyiapan lulusannya untuk menghadapi dunia kerja, mengapa masih marak kursus dan pelatihan yang diadakan sebelum seseorang memasuki dunia kerja? bukankah ini bukti bahwa sekolah dan sistem pendidikan yang ada tidak membantu mempersiapkan lulusannya sesuai dengan permintaan pasar kerja.
Sekolah diibaratkan sebuah candu yang bisa membius dan melenakan seseorang, cuma dijadikan sebagai tempat singgah, mengisi waktu luang, bersuka cita mumpung masih muda. Kemudian setelah lulus, terengah-engah untuk mencari kerja, sedikit sentimental, dan ketika sudah bekerja bangga dengan pekerjaannya sebagai pegawai. Yang lebih parah lagi ada yang waktu hidupnya hanya untuk bersekolah tiada henti, setelah lulus di Indonesia, ke Australia, ke Jepang sampai lupa waktu untuk mengimplementasikan dan berbagi ilmunya.
Begitulah sekolah di Indonesia yang selalu dibatasi dengan berbagai macam “tetek bengek” kebijakan, aturan, formalitas, kakunya kurikulum,sampai pada hal-hal kecil dari mulai memakai seragam, model gaya rambut dan lain sebagainya. Selama puluhan tahun siswa dikurung dalam kelas, ruang gerak dibatasi, akhirnya jiwanya kemerdekaannya terenggut oleh kebijakan kaku sekolah dan akhirnya menjadi anak yang penakut. Lantas ketika ada anak negeri coba keluar dari jalur yang telah ditentukan oleh pemerintah, menciptakan terobosan diluar umumnya suatu sekolah, pemerintah main hakim sendiri, tidak mau mengakui dan lain sebagainya.
Jika saat ini kita ditanya, apakah yang ada dalam benak kita jika mendengar istilah sekolah, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pencabulan, tawuran, atau bentrokan? Tepat, semua itu bercampur baur dalam satu istitusi bernama sekolah. Stigma sosial bahwa istitusi dan hasil produknya juga belum menunjukkan pergerakan yang positif. Beberapa istilah tersebut seolah saling terkait antara satu dengan lainnya. Meski statistiknya tidak banyak, namun karena pemberitaan mediayang gencar, akhirnya stigma itu melekat hingga sekarang.
Sangat naif seandainya kita hanya mengumpat dan mencerca para pendidik, pihak sekolah,atau pun pembuat kebijakan. Banyak solusi yang sebenarnya bisa menjadi referensi bagi mereka guna mengoptimalkan dana rakyat sebesar Rp 209,54 trilun atau setara 20 % dari anggaran APBN 2010.
Read More

Kelasku Terasa Bagaikan Penjara

Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri yang dapat diukur dari tingginya sumber daya manusianya. Para pakar sama-sama setuju bahwa jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan pendidikan. Dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul penting. Oleh karena itu, sampai sekarang, pendidikan masih dianggap sebagai investasi nasional, investasi terhadap manusia.
Keadaan dan eksistensi Negara pada masa mendatang sangat ditentukan oleh investasi sumber daya manusia sekarang ini. Karena langkah untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah dengan pendidikan, maka sorotan utama tertuju pada pendidikan formal di sekolah. Sayangnya daya tarik sekolah mengalami kemerosotan. Degradasi tersebut dapat ditinjau dari beberapa segi. Mulai segi lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Banyak fakta yang dapat menyokong pendapat ini, di antaranya makin banyaknya anak-anak sekolah yang berkeliaran di luar lingkungan sekolah pada jam belajar efektif, pelaksanaan disiplin yang macet, melambungnya perhatian masyarakat untuk lebih senang menyerbu fasilitas hiburan daripada fasilitas pendidikan, dan masih suburnya rasa malas yang bercokol dalam diri hampir sebagian besar orang.
Guru sebagai pemegang peranan penting dalam proses pembelajaran dalam ruangan kelas menjadi perhatian utama. Meskipun telah banyak yang mengkritik metode pengajaran di sekolah yang terkesan serampangan, reaksi positifnya belum terlihat secara nyata. Sampai kini pun, metode mengajar konvensional masih cukup banyak digandrungi oleh guru-guru. Metode konvensional adalah metode mengajar dengan mengkondisikan murid-murid untuk menghafal teks demi teks catatan yang diberikan oleh guru, baik mereka memahami maupun tidak. Mengajar dengan metode ini bersifat dogmatis dan otoriter. Metode tersebut sangat sedikit mendorong murid untuk bertanya dan bersikap kritis atau tertarik belajar mandiri di luar sekolah.
Dengan metode ini, guru yang – karena kurang menguasai bahan – mengambil langkah mudah, yaitu dengan meringkas isi buku untuk dicatat para siswa. Atau, menghafalkan kata-kata dalam buku agar keesokan harinya dapat didiktekkan kepada murid di dalam kelas. Ilmu guru yang demikian bisa dikatakan cuma lebih tua satu malam daripada murid. Aplikasi metode ini pun dapat dilihat pada pendekatan guru yang otoriter. Guru menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, sehingga mengharuskan setiap murid menerima apa saja yang dikatakannya, yang satu sebatas memberi dan yang lain sekadar menerima.
Oleh penulis menyebut metode ini sebagai “cerek dan cangkir”. Gaya mengajar ini cenderung melemahkan kebebasan berpikir dan mematikan rasa ingin tahu. Dalam proses pembelajaran, siswa bersikap pasif. Mereka menelan mentah-mentah ilmu yang disodorkan, dalam menyerap pelajaran pun sekedar menghafal buku catatan. Dalam praktek lainnya, dapat dilihat dengan pemakaian Lembar Kerja Siswa (LKS), dengannya guru akan lebih merasa bebas karena akan tertolong dan dengannya pula akan menguntungkan secara ekonomi. Ada lelucon tentang guru yang mengandalkan LKS ini, yaitu satu jam pelajaran dibagi atas empat bagian. Ketika lonceng tanda masuk berbunyi, guru mondar-mandir seperempat jam. Seperampat jam berikutnya, guru masuk kelas dan mengabsen siswa. Dilanjutkan dengan marah-marah selama seperempat jam. Seperampat jam yang tersedia digunakan untuk mengerjakan isi buku. Inilah fungsi LKS yang akan menolong guru. Secara ekonomi, tentunya menjadi pendapatan yang untungnya sudah pasti dapat dihitung, bahkan seorang guru dapat menjual dua jenis LKS dengan mata pelajaran yang sama.
Proses pembelajaran yang demikian inilah yang menyebabkan suasana kelas dan belajar menjadi serba membosankan. Tak heran jika hampir setiap hari ada saja murid yang sengaja membolos. Maka, tidak berlaku lagi kata-kata mutiara yang berbunyi “kelasku adalah istanaku”. Tetapi, yang terjadi adalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.
Tidak ada siswa yang bodoh melainkan lahir dari guru yang kurang kreatif. Menjadi keyakinan bahwa kreatifitas seorang guru akan sangat mempengaruhi kondisi kelas yang pastinya akan menjadi stimulan yang baik dalam mengundang perhatian siswa. Pemberian label bodoh dan nakal pada siswa malah akan mengganggu perkembangan kepribadian siswa.
Rumusan metode pembelajaran selalu didiskusikan baik pemerintah maupun organisasi pemerhati pendidikan, namun secara sederhana apapun metode yang digunakan sepanjang guru mengajar dengan asal-asalan maka tujuan pendidikan adalah hal yang mustahil dicapai. Sangat mustahil jika guru-guru yang demikian dapat berfungsi sebagai peningkat kualitas, konselor, motivator, dan fasilitator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru mampu berpartisipasi secara optimal dalam pendidikan jika ia sendiri belum menampakkan kualitas diri. Guru adalah profesi yang tidak boleh berhenti belajar. Ini karena belajar adalah kata kunci untuk tiga hal penting bagi profesi guru, yaitu paradigma (ilmu pengetahuan), cara (kompetensi) dan komitmen (perilaku). Untuk itu, kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas diri dan pendidikan. Andaikan mereka mengikuti penataran, misalnya, janganlah hanya mengharapkan sertifikat untuk menaikkan kredit poin. Apalagi malah bersikap pasif terhadap perkembangan pendidikan. Tidak ada tempat lagi bagi guru untuk selalu berlindung dibalik alasan untuk tidak belajar. Menyempatkan waktu untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat akan dapat menambah wawasan. Harapannya, guru dapat menjadi insan yang berkualitas sehingga dapat mendidik murid-murid menjadi sumber daya manusia yang tercerahkan.
Read More

Selasa, 20 Agustus 2013

Demokrasi itu Bugis



Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki  ciri khas yang menjadi jati diri mereka. Dalam mempertahankan jati dirinya tersebut, mereka senantiasa berupaya  mencari cara sedemikian rupa  demi untuk mempertahankan eksistensi kelompok atau sukunya. Mereka berusaha menciptakan suatu tatanan prinsip yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam segala tindakan baik bersifat pribadi maupun kelompoknya. Dengan tujuan, agar apa yang diharapkan dalam tindakannya dapat mendapatkan hasil yang diharapkan dan mendapat apresiasi baik dalam kelompok sukunya sendiri maupun di luar kelompok suku bangsanya. Mereka meyakini, bahwa dengan memiliki  prinsip sebgai pegangan maka segala yang  kita lakukan tidak akan kesasar dan mengambang, disamping prinsip itulah yang jadikan sebagai alat motivasi dalam melakoni hidup disegala bidang.
Demikian pula suku bangsa yang ada di Sulawesi selatan (Bugis dan Makassar) sejak dahulu kala setiap suku telah memiliki prinsip-prinsip hidup yang dijadikan sebagai perisai dalam menjaga keberlangsungan norma-norma adab yang dimilikinya. Perisai yang dimaksud adalah prinsip-prinsip yang dijadikan sebagai Motto dalam melindungi norma-norma adat-istiadatnya sebagai pegangan hidup dalam  menjalankan segala aktivitasnya baik secara internal maupun eksternal.
Selain membahas tentang etika kepemimpinan, berbagai khazanah kearifan lokal Bugis seperti Sure Galigo, Lontara, Paseng to Riolo dan Elong, juga memuat tentang karakter kepemimpinan politik manusia Bugis. Pertama, penegakan hukum. Sebuah petuah berharga tanah Bugis berbunyi, ”ade’ temmakkiana’ temmakieppo” yang berarti bahwa ”adat tidak mengenal anak, tidak mengenal cucu”. Prinsip ini dapat ditemukan aplikasinya sebagaimana dicontohkan oleh Raja Bone La Patau Matanna Tikka ketika menghukum putranya La Temmasonge pada tahun 1710 dengan hukuman ”ri paoppangi tana” (di usir dari Bone dan dibuang ke Buton) karena membunuh Arung Tibojong. Begitupula Arung Maroa Wajo X La Pakoko Topabbele’ menghukum mati anaknya sendiri La Pabbele’ karena memperkosa seorang perempuan di kampung To Tinco.
Karakter kepemimpinan kedua, adalah demokratis atau dalam khasanah Bugis disebut kemerdekaan. Dalam Lontara Sukku’na Wajo terdapat sebuah petuah yang berbunyi, ”Naiyya ri asengge maradeka, tellumi pannessai: seuani, tenri lawa’i ri olona. Maduanna, tenri angka’i ri ada-adanna. Matellunna, ternri atteangngi lao maniang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao manorang”.
Petuah ini berarti bahwa “yang dinamakan merdeka, ada tiga hal yang menentukan: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga, tidak dilarang ke selatan, ke utara, ke barat, ke timur, ke atas, ke bawah”. Benar-benar sebuah jaminan akan kebebasan masyarakat.
Berbicara tentang Bugis juga selalu identik dengan Bone. Peradaban Bugis pada masa silam adalah peradaban besar dan gemilang yang memiliki daya tarik tersendiri bahkan seorang penulis asal Prancis: Christian Pelras rela menghabiskan 2/3 umurnya hanya untuk meneliti kebudayaan Bugis dan mengasilkan buku 'The Bugis', yang diperoleh dari hasil penelitian dan penelusuran dokumen yang berlangsung selama 40 tahun (1950–1990). Penerbit Ininnawa kemudian diterjemahkan menjadi 'Manusia Bugis'. Memang fenomenal, seorang manusia Prancis, rela terjun selama puluhan tahun hanya untuk meneliti kebudayaan orang lain. Sesuatu yang jarang dijumpai di Indonesia, lebih-lebih di kalangan peneliti lokal sendiri.
Kajao Laliddong adalah salah satu diplomat di kerajaan Bone. Kedudukannya sebagai duta keliling mengantarkan namanya ke jenjang lebih tenar, baik kerajaan maupun di kerajaan tetangga. Zaman Kajao Laliddong adalah zaman kedamaian dan persahabatan yang terjadi dalam abad ke 16. Masa itu tumbuh kesadaran ingin mempersatukan diri dan mengurus kesejahteraan rakyat masing-masing kerajaan. Dikenal masa itu dengan istilah “tana passiajingeng” yaitu sebutan suatu kerajaan kepada kerajaan tetangga, bahwa kerajaan tetangga itu adalah Negara family atau sahabat, berarti sudah semacam perjanjian atau kontrak diantara mereka tidak akan saling menganggu dan musuh dari luar akan dihadapi bersama. Konsep timbulnya perjanjian-perjanjian persahabatan itu di Sulawesi selatan banyak disponsori oleh kajao Laliddong.
Lebih lanjut di sebut dalam naskah lontara tentang pembatasan kekuasaan kekuasaan raja dan kewajiban raja untuk menghormati dan mentaati hak-hak rakyatnya ditemukan dialok yang menarik antara negarawan-negarawan Bugis dan Makassar pada zaman dahulu (abad 16). Dialog itu berkisar pada getting-bicara (kepastian hukum) tentang kenegaraan yang dianut oleh masing-masing daerah yaitu Kajao Laliddong dari Bone, Puang Ri Maggalatung dari Wajo, Topacaleppang Tau Tongengenge dari Soppeng, To Meggu’ Maccae dari Luwu, La Pagala Nene’ Mallomo dari Sidenreng dan Boto Lempangan dari Gowa. Mereka ini adalah ahli-ahli piker, cendekiawan dan negarawan pada masanya, dianggap mengadakan pertemuan di Cenrana (Bone) untuk saling menentukan sistem politil yang dianut oleh negaranya. Hasil diskusinya juga dianggap sebagai nilai kepemimpinan yang pada masing-masing daerah.
Pertama kali bertanya Puang ri Maggalatung kepada Kajao Laliddong tentang kepastian hukum di Bone yang mengangkat derajat dan kebesaran tanah Bone, serta memakmurkan rakyar Bone. Kajao menjawab bahwa “yang saya angkat pejabat adalah keturunan pejabat pemerintahan; yang saya angkat sebagai duta Negara adalah keturunan duta; yang saya angkat jadi Matowa (kepala kampung) adalah keturunan Matowa; yang saya angkat sebagai raja adalah keturunan raja. Kemudian Kajao sambung lagi “saya tidak akan mengambil kayu disandarkan, kalau bukan saya yang sandarkan, saya tidak mengambil kayu ditetak sebelah-menyebelah kalau bukan saya yang tetak, saya tidak mengeluarkan kerbau kalau bukan kerbauku, saya tidak mengambil tanaman kalau bukan saya yang menanamnya”.
Kedua kalinya Puang Maggalatung berpaling kepada Nene’ Mallomo bertanya, bagaimana engkau tentang kepastian hukuman di Sidenreng yang memakmurkan rakyatnya, menyuburkan tanam-tanaman. Jawab Nene’ dalam bahasa ungkapan “suatu waktu saya suruh anak saya menggantikan saya melaksanakan upacara mappalili (upacara mulai turun sawah) dan dalam memulai membajak sawah, patahlah lukuhnya, lalu diambilnya lukuh orang lain tanpa diberitahu pemiliknya. Tiga tahun berturu-turut, panen tidak jadi dan berjangkit wabah penyakit dalam negeri. Kucari sebabnya dan kutemukan bahwa anakkulah yang menjadi sumber, maka kubunuhlah anakku itu. Kemudian tanya Puang Ri Maggalatung “apakah pantas pembunuhan itu hanya karena sebuah lukuh?” Nene’ dengan tegas berkata “bicara (hukum) itu tidak beranak, lebih penting artinya rakyat banyak dari pada seorang”.
Ketiga kalinya Puang ri Maggalatung berpaling kepada Boto Lempangan bertanya “bagaimana kepastian hukum di Gowa? Jawab Boto “bicara musu! Nabelleperru’ nagau mawatang”, artinya hukum perang dan acuh tak sungguh serta tidak negeri Gowa jadi kecil.
Berkata lagi Puang, bagamana dengan To Megu Maccae ri Luwu, bagaimana kepastian hukum yang besarkan negeri di Luwu. Jawab Maccae ri Luwu “olakuu uakkolari. Timbangakku uattimbangi. Kupariawai riawae, kuparitengngai ri tengngae, kupariwawoi riwawaoe” artinya takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang rendah kutempatkan dibawah, yang tengah kutempatkan ditengah dan yang tinggi kutempatkan diatas.
Lalu berkata Kajao kepada Puang ri Maggalatung, bagaimana halnya kepastian hukum di Wajo yang membesarkan negerimu, meskipun diluar daerah Wajo bila mengataan dirinya orang dari Wajo, maka menjadilah padinya. Jawab Puang, belum pernah saya sendiri memutuskan perkara semenjak orang Wajo merayakan saya. Denga sebuah kalimat saja, sudah menggambarkan keseluruhan keadaan dan sistem kekuasaan di Wajo, rakyatnya merasa ikut serta dalam kekuasaan negaranya. Orang Wajo mencintai permusyawaratan dan kemerdekaan sebaliknya menolak segala bentuk dan sistem mutlak dari seorang raja atau pemerintah.
Pertemuan para cendekiawan itu menghasilkan beberapa kesimpulan-kesimpilan piker mengenai nilai-nilai kepemimpinan ayng diterapkan di daerahnya, kesimpulan itu dapat digambarkan, bahwa Kajao di Bone mengutamakan kejujuran dalam semua tindakan, kemudian jabatan kepemimpinan Negara diangkat dari mereka yang mempunyai warisan keahlian. Nene’ di Sidenreng mengutamakan ketegasan hukum dan aturan, sekalipun anak kandungnya sendiri melakukan pelanggaran harus diberi hukuman yang setimpal menurut hukum yang berlaku, tanpa pilih buluh dan kasih. Kepentingan umum diutamakan daripada sendiri.
Boto Lempangan di Gowa mengutamakan kekuatan dan kekuasaan, oleh karena hanya dengan kekuatan dan kekuasaan itu, Negara bisa menjadi besar. Sebaliknya To Meggu ri Luwu mengutamakan kewajaran dan keserasian. Apa yang dirasa buruk, jangan diperlakukan kepada oran lain yang buruk itu. Kalau meamng mencubit diri itu sakit, janganlah mencubit orang lain. Semua harus diukur melalui diri sendiri.
Puang di Wajo mengutamakan penyelenggaraan hukum secara adil. Ungkapan orang Wajo yang menyatakan “merdeka orang Wajo hanya adatnya saja yang dipertuan”. Apapun dan siapapun jika tidak mengikuti adat, maka orang Wajo akan menolaknya. Semua orang harus taat dan hormat kepada aturan hukum yang telah disepakati.
Demikian gambaran kepastian hukum yang juga merupakan nilai kepemimpinan lokal tiap cendekiawan yang dianut di daerahnya masing-masing yang dianggapnya turut memakmurkan dan menjamin keadilan negaranya.
Dari asumsi tersebut, terselip harapan untuk kembali melestarikan spirit kebugisan kita. Karena di sana ada kearifan hidup, ada spirit keberanian dan ketangguhan melawan hidup. Nenek moyang di masa lalu telah menawarkan spirit ketangguhan dan keberanian hidup. Mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan dalam mengarungi hidup. 
Ketika melihat fenomena budaya yang berkembang di masyarakat Sulawesi selatan khususnya dikalangan generasi muda (mahasiswa). Ada beberapa pertanyaan sederhana yang sebenarnya mengandung makna keprihatinan atas fenomena tersebut. Berapa banyak anak muda yang bisa bercerita lengkap tentang sejarah? Sejauh mana anak muda tahu tentang tokoh-tokoh di balik kebesaran kerajaan di wilayah ini? Berapa banyak anak muda yang bisa menulis dan membaca aksara lontara dengan baik? Berapa banyak anak muda yang bisa berbahasa lokal dengan bahasa yang halus? Berapa banyak anak muda yang hafal dan mengamalkan pesan-pesan leluhur (Pappaseng To Riolo)? Apakah perilaku generasi saat ini telah mencerminkan sikap-sikap (Mappakkeade’) seperti yang dulu dimiliki para pendahulunya? Dan masihkan ikatan emosional (Riassibonei) terjalin dengan harmonis antara sesama warga di dalam dan luar daerah?
Pada dewasa ini, teramat penting untuk menumbuhkembangkankan jiwa dan semangat nilai-nilai kepemimpinan. Karena diakui atau tidak, saat ini masyarakat dunia (termasuk masyarakat Sulawesi Selatan) hidup dalam kecenderungan yang bersifat global. Pergeseran budaya yang semakin tajam, kecilnya dunia berkat sistem komunikasi dan transformasi  yang semakin canggih telah memberikan makna kehidupan manusia ke arah yang lebih maju dan modern.
Dalam situasi dan kondisi seperti ini, bukan hal yang mustahil semangat dan budaya kedaerahan akan semakin terkikis atau mungkin hilang dari sanubari mahasiswa, yang memang jarang tersentuh dengan gagasan–gagasan kearifan lokal.
Di zaman ini, ketika kita kembali meneropong masa Ialu, menguak tabir jejak-jejak sejarah gemilang moyang kita pada masa silam. Seyogianya kita jadikan sebagai bahan renungan kita semua. Hal ini bukan berarti untuk mengevaluasi apa lagi untuk memberikan penilaian, akan tetapi semata-mata berniat sebagai “gelitik luhur ” dan bahan renungan bagi semua, akan pentingnya munumbuhkan kembali jiwa cinta nilai lokalitas kita masing-masing.
Read More

Jumat, 14 Juni 2013

Jejaring Pendamping Sekolah


Boro, sebuah perkampungan yang berada sekitar 1 jam 30 menit dari arah barat kota Jogajakarta, meninggalkan jejak sejarah bagi Jaringan Pendamping Sekolah. Tepatnya di sebuah area yang mengembangkan budaya untuk pendidikan bernama Dolan Deso menjadi titik awal pembentukan secara utuh jaringan ini. Di deklarasikan sejak Desember 2012 lalu di Pulau Bali, kota Denpasar dengan kesamaan kebutuhan yaitu memandang penting membuat sebuah sampul yang mengaitkan berbagai lembaga yang berkegiatan di sekolah. Usaha memantapkan keberadaan Jaringan ini dilakukan dengan diskusi On line melalui facebook. Hingga kemudian disetujui untuk dilakukan kopi darat pada tanggal 30 Mei 2013 sampai 1 Juni 2013, saat setelah pertemuan evaluasi lokakarya nasional di eDOtel Hotel Yogyakarta.
Pertemuan selama 3 hari ini diharapakan dapat membentuk persepsi yang sama tentang jaringan ini. Penamaan jaringan sudah menjadi jelas yaitu Jaringan Pendamping Sekolah dengan singkatan JPS artinya bahwa mereka baik individu maupun lembaga yang melakukan kegiatan dampingan di sekolah dalam wilayah Indonesia. Jenis dampingan bisa beragam karena dengan itulah akan memperkaya jaringan ini. Hingga kini, keanggotaan JPS terdapat lembaga dengan beragam isu seperti pangan, hak perempuan, integrasi bahan ajar, konservasi, dan lainnya. Skholatanpabatas sendiri memiliki jejak dampingan bersama sekolah. Sejak tahun 2007 mulai melakukan kegiatan di beberapa sekolah baik SMP maupun SMA di Kecamatan Lapri, Bone dengan produk English study club yang menghimpun siswa-siswi dari berbagai sekolah yang ada di kecamatan tersebut. Arah dari dampingan ini adalah kemandirian dan keberlangsungan. Kemandirian dimana anak-anak mampu membuat arah dari kegiatan yang mereka butuhkan sendiri serta keberlangsungan dengan melakukan pergantian pengurus study club setiap tahunnya sehingga ada regenerasi. Bahasa Inggris dijadikan sebagai alat dalam melihat berbagai isu atau aspek baik lingkungan maupun fenomena sosial setempat maupun luar. Selain itu, usaha untuk melakukan pendampingan pada SD dan SMP (satap) Langkeang, Maros menjadi agenda penting dalam tahun 2013 ini bagi Skhola. Integrasi dampingan sekolah dan masyarakat setempat menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah dilakukan. Harapnya, program ini dapat menjadi nyata. Adanya jaringan ini menjadi spirit sendiri untuk segera merealisasikannya.
Penyamaan frekuensi sesama anggota jaringan merupakan hal yang mendasar. Tantangan setelah ini tentu saja akan semakin nyata. Melihat dari berbagai Jaringan yang lain yang kemudian tidak berkembang dan memberi manfaat signifikan terhadap anggotanya. Bagi skholatanpabatas sendiri, keikutsertaan dalam jaringan ini tentu berharap lebih dengan sharing informasi dari lembaga lain ataupun hingga pada kaloborasi kegiatan dengan lembaga lain. Sebagaimana Skholatanpabatas juga siap dalam memberi sumbangsih untuk lembaga lain maupun atas nama jaringan.
Riuh tawa selama kegiatan tidak pudar hanya karena kepentingan sesaat. Canda tawa 3 hari menjadi penguat kita untuk tetap eksis demi sekolah integrasi Indonesia yang jauh lebih baik dengan sentuhan kita. Skholatanpabatas mengucapkan selamat pada Dhani, sang Host yang super duper aktif mengingatkan calon anggota JPS selama diskusi On line hingga pertemuan di Dolan Deso, serta teman-teman dari lembaga lain keep sharing.
Jalan-jalan ke kota daeng, jangan lupa berkunjung ke pantai losari
Bila umur kita panjang, pastikan kita berjumpa lagi
J


Read More

Merefleksi Education For Sustainable Development di Sudut Kota Budaya

Cahaya lampu nampak elok dari ketinggian aircraft dan hilang seketika saat besi terbang ini menjauh dari arah kota daeng. Yaa menjauh dan mendekat menuju kota pelajar nan budaya, 1 jam 45 menit jarak tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di Adi Sucjipto airport, Yogyakarta. Kedap kedip cahaya lampu mengingatkanku pada bukit bintang, sebuah tempat nongkrong warga kota Jogja khususnya mahasiswa/i. Dari arah Timur kota Jogjakarta menjadi pilihan tepat melepas penat dengan segala rutinitas akademik kampus. Kira-kira sejam perjalanan untuk sampai bukit ini. Menatap kota Jogja dari ketinggian dengan gemerlap cahaya lampu, memandang pesawat dari kejauhan yang nampak jelas saat lepas dan landas, menerawang angkasa dengan gemerlap bintang dari diatas perbukitan merupakan melodi irama semesta yang tak mungkin terlupakan. Canda tawa pasangan suam istri/pacaran pun rombongan selalu menghiasai bukit ini. Suasana dingin memang memberi kesempatan muda mudi untuk lebih erat, lagi dan lagi ;), tanpa terasa menggenggam tangan dan saling merangkul nampak mudah ditemukan. Dan tak kalah riang, pengunjung yang datang dengan rombongan lebih memilih melingkar saling merangkul sambil bercerita beragam topik. Masyarakat setempat berhasil mengundang mereka “para pengunjung” dengan stand sederhana sambil menjajakan dagangannya. Ahh bukit bintang, eloknya dikau, kelak kita akan bersua kembali.
Kita lupakan sejenak bukit yang berbintang itu, serius dulu baru mampir kembali ke sana lagi J
Refleksi pertemuan lokakarya nasional Ancol Jakarta, bulan Desember 2012 lalu menjadi jadwal penting membawaku di kota ini. Skholatanpabatas merupakan salah satu lembaga yang diundang untuk terlibat dalam agenda ini bersama beberapa Non Government Organization (NGO) dari pulau Jawa, Sumatera, Papua dan Kalimantan. Agenda penting dari pertemuan ini adalah membahas hasil rekomendasi dari national workshop Ancol dan rencana pembuatan national report ESD. Pertemuan selama 3 hari dengan berlokasi di hotel yang berada di pusat kota Yogyakarta.
Hari pertama membahas tentang refleksi pertemuan lokakarya nasional Ancol. Dari hasil refleksi menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari kegiatan tersebut. Kelebihan dari Lokakarya nasional di Ancol ini kerena mempertemukan beberapa NGO dari berbagai daerah. Selain dari NGO, kegiatan lokakarya tersebut juga diikuti oleh instansi pemerintah baik dari pusat maupun daerah. Masing-masing NGO mengajak dua perwakilan pemerintah dari dinas pendidikan maupun lingkungan hidup. Skholatanpabatas saat itu mengundang perwakilan dinas pendidikan provinsi Sulsel dan salah satu guru dari Langkeang, Maros. Hal ini membuat kegiatan ini menjadi lebih berisi dan bermakna. Adapun yang menjadi bagian evaluasi perbaikan adalah hasil rekomendasi lokakarya yang dirumuskan diakhir pertemuan tidak sampai pada masing-masing lembaga peserta sehingga tidak dapat di tindak lanjuti di pusat maupun daerah.
Untuk memperkuat rekomendasi yang dirumuskan pada national workshop tersebut maka dibuatlah rumusan masing-masing point rekomendasi. Hal ini memungkinkan untuk membahas lebih jauh peranan masing-masing lembaga dan menentukan batas waktu pengawalan rekomendasi. Pembahasan apa dan siapa yang melakukan pengawalan di tingkat pusat dan lokal menjadi penting agar dapat lebih terarah. Usaha dalam mengawal rekomendasi tersebut merupakan bagian dari memperkuat posisi Education for Sustainable Development di Indonesia. Strategi pengawalan rekomendasi ini dilakukan dengan merumuskan lembaga yang berada di pusat dan daerah. Di pusat akan mengawal dengan mengkomunikasikan pada level kementerian dan individu yang fokus pada pendidikan. Di daerah menjadi peranan penting bagi lembaga yang ada di daerah untuk menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah. Hasil dari pertemuan dengan pengambil kebijakan baik pusat maupun daerah ini diharapkan akan membuka ruang pengembangan ESD di Indonesia.
Penekanan pada wilayah kebijakan baik secara global maupun nasional menjadi penting juga dalam pertemuan ini. Menemukan kebijakan yang telah ada pada pemerintah pusat dan daerah dianggap penting bagi NGO agar lebih memudahkan bergerak. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah lain. Kebijakan ini merupakan landasan hukum agar dapat meyakinkan pemerintah baik pusat maupun daerah. Saat ini, selain dari kementerian, juga telah ada beberapa pemerintah lokal yang membuat peraturan daerah (perda).
Selain pemantapan akan pengawalan rekomendasi, pertemuan ini juga memfokuskan pada pembuatan national report Education for Sustainable development. National report ini akan berupa buku. Untuk memudahkan, maka dibuatlah team kerja yang terlibat dalam pembukuan ini. Sebagai titik awal dalam pembuatan ini, maka diharapkan masing-masing lembaga untuk membuat dan mengumpulkan best practice dari kegiatan yang selama ini dilakukan. Kegiatan tersebut nantinya akan di sesuaikan apakah sesuai dengan konsep ESD atau tidak. Pengumpulan best practice berdasar pada konsep ESD ini karena akan menjadi laporan nasional dalam melihat bagaimana perkembangan ESD di Indonesia selama kurang dari sepuluh tahun ini.


Read More