Kenapa Harus Selingkuh
“Hei Rin, senyum sendiri kenapa sih.” Sapaan Widi
membuyarkan lamunanku. Meamng dia orangnya suka iseng, termasuk suka ngusilin
aku yang lagi melamun. “kerin, lamunin apaan, lagi menghayalkan Piko yaa?” Widi
membuat aku tambah jengkel lagi. “aku bingung Wid, sore ini Piko mau ngajakin
aku jalan dan … “, belum sempat lanjutin omongan aku, Widi nyembret aja, “la,
itukan info bagus, bisa dugem ama do’i, itu tandanya Pikonya serius sama kamu.”
Sudah tiga bulan aku jalan sama Piko, dia itu cowok
yang baik, romantic dan juga sebenarnya ia cowok yang tidak terlalu jujur. Aku
jadian sama dia karena support dari
teman-teman aku. Mulanya sih dia ragu untuk mengngkapkan perasaannya ke aku. Tapi
entah karena apa dia jadi dadakan curhat ke aku, dan aku juga tidak mengerti,
kenapa bisa aku langsung menerima cintanya.
“Bukan itu masalahnya, sore nanti aku ada janjian
lebih dulu sama Dirga, mau ngedet 100”, ucapku dengan senyuman. “lo, kamu harus
mentingin cowok kamu sendiri dong, dari pada Dirga, ia kan cuma cowok lain,”
Widi menimpali dengan nada menasehati. Hatiku beku saat mendengar saran Widi,
aku belum mau menceritakan hal yang sebenarnya sama sobatku yang pernah
maccomblangin aku dengan Piko. Melhat raut wajah yang muram, ia merasa heran,
dan semakin tambah penasaran saat aku membuang pandangan dari tatapannya.
“Rin, ada apa sih, serius masalahnya.” “sepertinya
saat ini aku akan menceritakannya sama kamu Wid, sebenarnya aku juga udah
jadian sama Dirga, dan …. “ belum sempat menyambung ucapanku, tiba-tiba, Widi
membelalakkan boal amatanya seakan tak percaya, “jadi, kamu selingkuh juga”,
ucap Widi seakan tidak mengerti, “memangnya ada apa Wid? Piko juga …” lagi-lagi
ucapanku terhalang setelah diterobos abis oleh sobatku, “mm…maksudku, mmm… aku,
aku Cuma tak percaya aja kok,” tutur sobatku agak lain, seolah menyembunyikan
sesuatu tentang Piko.
Widi hanya langsung beranjak dan pamit mau ke
kanting untuk menemui Yoga, pacarnya. Aku masih terus heran, aku curiga sama
Widi barusan. Tapi aku nggak terlalu mikirin hal itu, karena Widi itu sobatku
yang paling setia, ia tidak bakalan ngomong ke Piko. Sebenarnya aku sudah mau
bicarain semuanya ke Piko, namun aku belum mau putus sama dia, meskipun aku ada
Dirga yang jelas aku akan jalan sore nanti sama Dirga, gumamku dalam hati.
Sementara itu Piko yang kini sedang berdiri di
koridor sekolah terlihat panik. Belum lagi Widi yang datang nyambret begitu
saja. “kamu bikin aku kaget aja Wid.” Ucap Piko dengan nada lantang, “Pik,
entar sore kamu ada acara nggak?” Tanya Widi sambil menatap Piko dalam-dalam.
“itulah masalahnya Wid, aku sudah janji sama Kerin sore ini, tapi Wita ngajakin
aku ke mall juga.”
Terlukis senyum indah di bibir Widi, hendak menahan
tawanya. “Wid, gimana dong, kan kasihan kalo tolak ajakan Wita, kami kan baru
jadian.” Ucapan Piko justru membuat Widi semakin ketawa, membuat Piko jadi
heran. “ada apa sih Wid?” tanyanya keheranan. Widi berlari menjauh sambil
tertawa. “nanti kamu juga akan tahu Pik,” teriaknya.
*
Sore itu, aku merasa tidak yakin, dengan siapa aku
akan jalan nanti, tapi aku masih sibuk berias di depan kaca. Sebuah lipstick
merah jambu ku oleskan ke bibirku, sebagian kombinasi warna dengan baju pink
yang tengah aku pakai. Sementara mataku masih tertuju ke arah kaca, tapi
pikiranku melayang-melayang memikirkan apa yang akan terjadi nanti. “kalau Piko
datang duluan, apa yang harus ku katakana kepada Dirga, dan kalau Dirganya yang
menjemput lebih dulu, aku harus ngomong apa ke Piko,” pikirku.
“kapan sandiwara ini akan berakhir, apa aku harus
selalu berbihing ke Piko,” anganku masih terus berputar, mengingat saat-saat
indahku dengan Piko, namun sekarang aku telah membagi dua hati ini, dan aku
juga tidak mau kehilangan Dirga, cowok yang telah merebut hatiku saat pandangan
pertama di halaman sekolah itu.
Klakson mobil yang berbunyi keras, membuatku
terperanjat dan menghapus semua kata-kata dalam pikiranku barusan. Ku intip
dari jendela, sosok tubuh besar, tinggi, tengah berdiri dan memandang ke
arahku, senyumnya aku balas dengan senyuman pula. Aku pun menghampirinya.
“kamu benar nepatin janji kamu ya,” pujiku dan masih
tersenyum ke arahku. Tak sadarku, ia meraih tangan dan mendaratkan ciuman
hangat, “berangkat yuk,” ajaknya lembut. “tapi sebenarnya kamu masih terlambat
tujuh menit ko’,” ucapkumemulai pembicaraan. Dirga tidak bisa ngomong apa-apa,
bahkan dia alihkan ucapanku tadi dengan kata-kata rayuan dalam bahasa cintanya
ke aku. “keseriusanku kali jangan kamu siakan” ucapnya pelan. Aku hanya
tersenyum seolah aku mengiyakan, meskipun sebenarnya hal itu nggak mungkin buat
aku.
*
Suasana di pusat perbenjaan sore itu sangat
panasnya, terlihat banyak pengunjung memasuki gedung untuk menghangatkan diri
dengan mesin pendingin yang telah terpasang di ruangan itu. Sementara aku dan
Dirga baru selesai memarkir mobil hitam bernomer 32 AM di tempat parkiran.
Belum sempat turun dari mobil, ponsel yang ada dalam tasku bordering. Aku ragu
untuk menerimanya, namun Dirga memperhatikanku, sambil menyuruhku menerima
panggilan itu.
Suara Piko terdengar jelas di telingaku, ia meminta
maaf karena tidak jadi menjemputku dengan alasan harus ngantarin nyokap ke RS.
Aku masih terus diam, gak bisa ngomong apa-apa, tatapan Dirga membuatku kian
gugup. Tapi aku juga tak habis piker, tak biasanya Piko nelpon kalau ngebatalin
janji, biasanya juga minta maaf setelah ketemu, “o…” nggak apa-apa ko’” jawabku
agak ragu.
“telpon dari siapa?” Tanya Dirga santai. “m… dari
Widi, teman aku,” jawabku agak kaku dan salah tingkah. Perasaan risau dalam
hatiku harus aku buang jauh-jauh agar tidak membuatnya curiga, hal itu yang
masih melekat di benakku. Belum lama kami melangkah menuju pintu masuk, ku
dengar suara ponsel berdering. Rupanya Dirga mendapat panggilan. Tapi aneh,
setelah melihat nomor yang tertera di layar Hpnya, sepertinya ia ragu untuk
menerimanya, bahkan yang membuat aku semakin heran saat ia mematikan begitu
saja.
“kenapa dimatiin?” aku bertanya penuh penasaran.
“ah, teman tuh lagi iseng” jawabnya cuek. Saat itu perasaan aku tak menentu.
Ini adalah hari pertama aku jalan bersama Dirga, hatiku masih terasa berdegup,
dan pikiranku terus berada di Piko. Sebenarnya aku juga merasa lega karena
Pikonya pun gak jadi datang menjemputku.
Hari sudah begitu sore, kami memutuskan untuk
kembali saja. Kami melangkah santai menuju parkiran, kami bercanda, tertawa dan
kelihatannya Dirga juga menikmati hari ini. Namun aku melihat beberapa orang
seumuran Dirga datang menghampiri kami. “dirga, cewek ini …. “ belum sempat
bicara lama, Dirga pas membalas ucapan teman-temannya yang begitu ramai, dan
mengalihkan pembicaraan, “eh … sory ya, kami buru-buru,” tatap Dirga kekakuan.
Kami sudah masuk ke mobil, namun teman-teman Dirga tetap ngotot ngajakin
bicara. “mm…kamu tunggu sebentar ya” ucapnya kepadaku. Aku hanya diam, dan
terus memperhatikan gerak-gerik Dirga yang cukup mencurigakan.
Karena seriusnya ngobrol bersama temannya. Dirga
tidak mendengar bunyi SMS yang masuk di ponselnya. Aku berusaha memanggilnya
namun tak ada hasilnya. Akhirnya keputusan untuk menerimnya. “sory Dir, sore
ini aku gak bisa nemuin kamu, ada hal penting yang tidak bisa ku tinggalkan.
Wita.” Tulisan itu terlihat jelas oleh kedua mataku. “siapa itu Wita?” tanyaku
dalam hati. Namun kedatangan Dirga ke arahku membuatku terperanjat, “m…ini ada
SMS masuk buat kamu” kataku memulai pembicaraan. Setelah melihatnya, ia tampak
panic dan memperlihatkan tingkah yang aneh tapi Dirga juga cepat tanggap,
“o…ini sepupu aku, emang tadi ada janji, tapi aku tetap mementingkan kamu
sayang” jawabnya seolah meyakinkanku.
*
Dalam perjalan ke sekolah, aku masih terus
memikirkan tentang sikap Dirga kemarin sore yang sangat mengherankan buatku,
aku jadi berfikir yang tidak-tidak terhadap Dirga. Tiba-tiba Piko menghampiriku
dan mengajakku ngobrol. Aku memperlihatkan senyum seolah tidak memikirkan
apa-apa. Kami berbicara dengan baik, penuh senyuman seakan tidak pernah terjadi
apa-apa. Namun kehadiran Widi ternyata membuat kami kembali diam, Susana jadi
sunyi. Widi kelihatan segar, ceria dan ada satu hal yang paling kelihatan ia
selalu mengangguk-angguk seolah mengetahui sesuatu di antara kami, sebenarnya
aku deg-deg an, takut kalau Widi cerita ke Piko tentang Dirga. Di sisi lain
Piko tak kalah khawatirnya, ia berharap Widi tidak menceritakan tentang Wita ke
Kerin.
“Ko’ diam semuanya” Tanya Widi cuek seolah memancing
kehadiran masalah. Aku berusaha mengisyaratkan ke Widi untuk tidak macam-macam.
Aku juga melihat Piko begitu risau. Suasana saat itu sangat menjengkelkan buat
aku, di tambah lagi sifat Widi yang seakan-akan ingin membocorkan semua tentang
aku. Untunglah Yoga datang dan menjauhkan Widi dari kami, aku merasa lega,
lebih-lebih Piko yang kegirangan karena kepergian Widi.
Saat itu aku betul-betul menikmati statusku sebagai
milik Piko sekaligus Dirga, aku berharap Piko tidak mengetahui semuanya. Aku
diam begitu suara ponsel aku berbunyi, sementara Poki yang sedang memegangnya,
panikku bukan main. Aku khawatir Dirga yang menhubungiku, dan yang membuatku
semakin dingin saat Piko yang menerimanya. Aku dengar dengan jelas suara Dirga
berbicara begitu leluasa, sedang Piko hanya mengerutkan alis mendengar semua
ucapan-ucapan Dirga.
“apa yang harus ku katakana annti” bisikku dalam
hati. Perlahan dan pasti Poki menanyakan tentang Dirga, raut wajahnya diam, tak
mengedipkan matanya, “celaka, ia sudah tahu semuanya,” pikirku. Namun yang
membuat aku heran raut wajahnya berubah, ia tersenyum dan berkata “aku
mengerti, selama ini, aku memang kurang memperhatikanmu dan mungkin kamu
memanfaatkan kecuekanku untuk jalan sama Dirga.”
Kegelisahan yag bermuara di dalam hatiku lenyap
seketika saat ku dengar kata Piko. Aku meminta maaf kepadanya, ia hanya
membelai rambutku dan mengatakan dia masih sayang sama aku, lalu dia berlalu
meninggalkanku.
Perasaan legaku bercampur rasa heran, tidak biasanya
Piko selembut itu, biasanya juga selalu ngambek kalau aku buat kesalahan kecil,
tapi sekarang kasalahan sebesar itu, ia tanggapi dengan senyum bahkan aku
merasa dia tambah sayang sama aku.
*
Aku menyenderi di ruang kelas, aku masih memkirkan
tentang apa yang telah kulakukan terhadap Piko, aku merasa sangat bersalah, aku
menyesali sikapku yang begitu egois. Aku juga berfikir bahwa Dirga itu bukan
cowok yang baik, “aku yakin cewek yang bernama Wita itu adalah pacarnya,”
pikirku.
Piko datang menghampiriku, ia mendekat dan ngomong
seperti biasa. Bercanda, tertawa seolah tak pernah dan tidak marah kepadaku.
Tak hentinya aku meminta maaf atas kesalahan dan kebodohan yang kulakukan
karena memang dalam hatiku tidak berniat sedikit pun akan menghianati Piko.
Tiba-tiba aku melihat sosok yang rasanya begitu
dekat denganku. Widi dan Yoga terlihat mesra dengan senyuman yang diperlihatkan
dari bibir mereka, seolah aku melihat satu pasangan lagi. Aku tak pernah
berfikir kalau Dirga akan datang, namun aku tidak kenal siapa wanita yang
sedang bersamanya. Dan yang membuatku semakin tidak percaya, Piko beranjak dan
menyebut nama Wita. Seolah tak mengharapkan kedatangannya.
Wanita itu mendekat ke arah Piko, ia meminta maaf
“Pik, aku ingin jujur, sebenarnya aku nggak serius jalan sama kamu, aku senang
ko’ kenal sama kamu, aku tak pernah berniat menyakiti hatimu, tapi aku udah
punya Dirga dan kami berdua udah salinng mencintai, aku harap kamu mengerti.”
Kata-kata itu ku dengan jelas dari bibir wanita itu. Kini aku sudah tahu
semuanya, bukan hanya aku yang berbuat kesalahan, ternyata Piko juga punya andil
yang sama. kulihat Piko hanya mengangguk dan melepas kepergian mereka dengan
senyuman. Sementara aku tak bisa berkata apa-apa. Mengenai Dirga, aku tak akan
melupakannya dan mungkin Piko juga berfikir yang sama. ia tak akan melupakan
Wita juga. Sebelum mengucapkan apa-apa, aku langsung memeluk Piko, tak ada yang
salah di antara kami, meskipun saling selingkuh tapi tetap saling mencintai.
0 komentar: